The First Time to Be Master of Ceremony

Master of Ceremony atau biasa disingkat MC merupakan yang paling menentukan sukses atau tidaknya sebuah acara. MC bisa juga dikatakan sebagai penguasa acara, pembawa acara, pemandu acara. MC bertanggungjawab sejak awal acara hingga acara berakhir.

Kelas 8 yang Super Sibuk

Waktu itu aku masih duduk di kelas 2, mendekati akhir tahun ajaran. Ketika waktu istirahat, ketua OSIS mengumumkan bahwa semua pengurus OSIS diharapkan menghadiri rapat OSIS sepulang sekolah. Aku, salah satu pengurus OSIS, tidak mengetahui pengumuman tersebut. Karena waktu itu aku sedang berada di kantin yang sangat bising. Oh iya setiap waktu istirahat aku dan semua teman laki-laki di kelasku selalu berada di kantin, kecuali ketika aku kebagian piket OSIS.

Rapat yang Membosankan

Bel berakhirnya mata pelajaran terakhir untuk hari ini akhirnya berbunyi. Aku yang sudah merencanakan langsung pulang dan siap mempelajari sebuah buku Kumpulan Soal-Soal Fisika, harus kecewa ketika ada seorang teman, yang juga pengurus OSIS, mengatakan bahwa hari ini ada rapat pengurus OSIS. Aku protes karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Namun teman yang lain menimpali, bahwa pengumuman sudah diberitahukan pada waktu istirahat. Ah aku akhirnya menyerah dan mengikuti rapat pengurus OSIS tersebut.

Seperti biasa, pengurus yang hadir rapat hanya beberapa orang saja, dan orangnya hanya itu-itu saja. Kami para pengurus dibuat menunggu oleh sang ketua yang entah kemana, tak ada kabar. Siang itu terik matahari begitu menyengat, untung saja masih ada penjual es teh, suegeerrr. Akhirnya ketika es teh sudah hampir habis, sang ketua OSIS tiba. Ketua pun langsung membuka rapat tersebut. Rapat kali ini membahas perpisahan siswa-siswi kelas 9.

Akhirnya tiba pada pembagian tugas. Sebenarnya tidak banyak tugas yang harus pengurus OSIS kerjakan. Namun karena yang menghadiri rapat sedikit, akhirnya semuanya mendapatkan tugas. Aku yang awalnya selalu menolak ketika ditawari tugas, akhirnya dengan terpaksa harus mau menerima tugas yang menurutku paling berat, yaitu Master of Ceremony.

Belajar Menjadi Master of Ceremony

Jujur saja, aku bukanlah orang yang biasa berbicara di depan umum, terlebih acara resmi. Namun semuanya sudah diputuskan. Dan aku pun ingin mencoba sesuatu yang selama ini tabu bagiku, berbicara di depan publik. Aku tidak sendirian menjadi MC. Bersama temanku, Sabilla, kami kebingungan.

Seminggu berlalu dari awal penetapan aku dan temanku menjadi MC. Pada H-6 aku dan temanku, Sabilla, dipanggil salah seorang guru. Kami ditanya tentang kesiapan menjadi MC. Kami hanya diam, karena memang seminggu ini tidak mempersiapkan apa. Kemudian guruku tersebut memintaku untuk latihan setiap pulang sekolah. Ah, aku galau. Karena Ujian Akhir Semester tinggal Seminggu lagi. Dan juga beberapa hari berikutnya aku akan ikut olimpiade fisika. Akhirnya aku dijadwalkan untuk latihan setiap pulang sekolah minimal satu jam.

Hari Paling Mendebarkan

Adzan Subuh membangunkanku. Rasanya berat sekali membuka mata ini. Namun aku ingat, bahwa hari ini merupakan hari dimana aku akan mencoba sesuatu yang baru, berbicara di depan publik sebagai MC. Aku pun menjadi semangat.

Sepulangnya dari masjid, aku bingung tentang kostum mana yang akan aku pakai. Karena aku dan Sabilla tidak membahas masalah kostum sebelumnya. Akhirnya aku memutuskan untuk memakai kostum yang ibu pilihkan. Bismillahirrahmaanirrahiim semoga tidak salah kostum dan diberikan kelancaran selama acara berlangsung.

Aku datang ke sekolah masih sangat pagi. Di sekolah masih sepi, hanya ada penjaga sekolah saja. Namun tak lama kemudian, Sabilla tiba di sekolah. Kami pun latihan lagi sebelum tampil.

The First Time to Be Master of Ceremony
Ilustrasi Master of Ceremony

Pukul 08.00 acara pun dimulai. Kursi sudah dipenuhi oleh para siswa kelas 9 dan tamu undangan. Awalnya aku dan Sabilla gugup. Namun guruku yang selama ini mendampingi kami latihan terus menyemangati kami di belakang panggung. Setelah beberapa saat kemudian, rasa gugup mulai memudar. Acara demi acara dilalui dengan cukup lancar. Walaupun masih banyak kekurangan, namun bagiku itu cukup membanggakan. Karena aku sudah bisa mengalahkan rasa takutku berbicara di depan publik.

Tak terasa, ternyata kami sudah berada di penghujung acara. Kami pun menutup acara tersebut. Kemudian langsung menuju ruang guru. Di sana aku merasa kaki bergetar dan muka memerah. Mungkin ini efek gugup yang aku tahan selama acara tersebut. Beberapa guru memberikan apresiasi kepada kami. Namun tetap saja ada kritik dan saran buat kami. Ah ini adalah hari yang begitu indah bagiku.