thaharah atau bersuci merupakan hal yang sangat penting

Penjelasan Lengkap Mengenai Thaharah atau Bersuci

Thaharah selalu menjadi bab pertama dalam pembahasan-pembahasan ilmu fiqih. Hal ini dikarenakan thaharah merupakan salah satu syarat sah ibadah terutama sholat. Sebagai syarat sah, sudah tentu harus dibahas lebih awal agar sholat kita sah dan diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Pengertian Thaharah

Menurut lughah atau bahasa thaharah yaitu suci atau bersih. Dalam istilah syariat, thaharah memiliki arti suci dari hadats dan najis. Maksudnya keadaan suci setelah berwudlu, tayamum atau mandi wajib yang benar-benar telah diniatkan dan suci dari najis setelah terlebih dahulu dibersihkan dari badan, pakaian dan tempat.

Thaharah atau bersuci menurut syari’at Islam ada dua, yaitu:

1. Sebab Hadats
a. Hadats besar harus disucikan dengan mandi atau tayammum (jika dalam keadaan darurat).
b. Hadats kecil harus disucikan dengan berwudlu atau tayammum (jika dalam keadaan darurat).

2. Sebab najis harus dibersihkan dengan air hingga hilang warnanya, rasanya, dan baunya.

Macam-Macam Air

air terbagi menjadi beberapa macam untuk bersuci
www.sumurjogja.com

Air yang dapat dipergunakan untuk bersuci, baik dari hadats atau dari najis itu ada tujuh macam, yaitu:

  1. Air langit (air hujan).
  2. Air laut (meskipun air laut itu telah menguning, karena akan menjadi garam).
  3. Air sungai (meskipun air itu menguning bercampur debu).
  4. Air sumur (meskipun ait itu berwarna kuning dan mengandung garam terasa asin dan pahit, asal masih disebut air dan tidak disebut minyak).
  5. Air sumber atau mata air (meskipun air itu hangat, panas, berbau belerang atau berbau kapur).
  6. Air salju atau es.
  7. Air embun.

Pembagian Air

Air tersebut kalau ditinjau dari segi kegunaannya, dibagi menjadi empat bagian:

Air Muthlaq

Air suci lagi mensucikan yang tidak makruh menggunakannya, yaitu air yang masih murni.

Air Musyammas

Air suci lagi mensucikan tetapi makruh penggunaannya, yaitu air yang dipanaskan dengan matahari di tempat logam yang bukan emas.

Air Musta’mal

Air suci tetapi tidak dapat mensucikan, terdapat dua macam:

  • Air yang sudah pernah digunakan untuk mensucikan hadats atau untuk menghilangkan najis, selagi tidak berubah warnanya, rasanya dan baunya.
  • Air yang berubah sebab tercampur dengan benda-benda suci lain, seperti kopi, teh, susu, air kelapa dan lainnya.

Air Mutanajjis

Air yang terkena atau kemasukan najis, sedang air itu kurang dari dua kulah, meskipun tidak berubah. Atau ada dua kulah tetapi air itu berubah karena najis tersebut.

Dua kulah yaitu ukuran air lebih kurang ada lima ratus kati Baghdad, menurut pendapat paling shahih. Atau 190 liter atau 60 cm kubik.

Najis

najis terbagi menjadi tiga
intinebelajar.blogspot.com

Najis menurut syari’at Islam adalah benda yang kotor dan telah ada dalil yang menetapkannya. Najis wajib dibersihkan menurut cara-cara yang telah ditentukan oleh syara’ karena akan menjadi penghalang dalam beribadah kepada Allah. Yang termasuk benda-benda najis seperti:

  • Bangkai, kecuali manusia, ikan dan belalang.
  • Darah
  • Nanah
  • Segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur
  • Air liur anjing
  • Babi
  • Minuman keras
  • Bagian anggota badan binatang yang terpisah karena dipotong dan sebagainya selagi hidup

Pembagian Najis

Menurut ahli fiqih, najis dibagi menjadi tiga:

  1. Najis Mukhaffafah (ringan) seperti: air kencing bayi laki-laki yang belum berumur 2 tahun dan belum pernah makan sesuatu kecuali air susu ibu.
  2. Najis Mughallazah (berat) seperti: najis air liur anjing dan babi serta keturunannya.
  3. Najis Muthawassithah (sedang): ialah najis yang selain dari dua najis tersebut di atas, seperti segalam sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur manusia dan binatang kecuali air mani, barang cair yang memabukan, susu hewan yang tidak halal dimakan, bangkai, juga tulang dan bulunya, kecuali bangkai manusia, ikan dan belalang.

Najis muthawassithah dibagi menjadi 2, yaitu:

  1. Najis ‘ainiyah: ialah najis yang berwujud, yakni yang nampak dapat dilihat.
  2. Najis hukmiyah: ialah najis yang tidak kelihatan bendanya, seperti bekas kencing atau arak yang sudah kering dan sebagainya.

Najis yang Dimaafkan

Najis yang keberadaannya dimaafkan, tidak wajib dicuci atau dibersikan bila menempel pada badan, pakaian, atau tempat shalat di antaranya:

  • Darah dari binatang yang tidak mengalir darahnya seperti nyamuk.
  • Nanah bisul meski bercampur darah atau tidak.

Selain itu ada beberapa najis yang jatuh di air atau zat cair yang dimaafkan untuk dipakai antara lain:

  • Bulu yang najis tapi jumlahnya sedikit.
  • Najis yang tidak terlihat mata karena sedikit.
  • Bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir, seperti nyamuk, kecoa, kutu, lalat, dan lainnya.
  • Paruh buruh atau mulut tikut yang bersentuhan dengan air.
  • Debu yang bercampur najis.

Cara Menghilangkan Najis

  1. Barang yang kena najis mughallahah seperti jilatan anjing atau babi, wajib dibasuh 7 kali dan salah satu di antaranya dengan air bercampur tanah.
  2. Barang yang terkena najis mutawassithah dapat suci dengan dibasuh sekali, asal sifat-sifat najisnya (warna, bau dan rasanya) itu hilang. Namun lebih baik lagi bila disiram sebanyak tiga kali.
  3. Barang yang terkena najis mukhaffafah cukup diperciki air pada tempat najis itu.
  4. Untuk najis hukmiyah cara menghilangkannya cukup dengan mengalirkan air saja pada najis tadi.
  5. Najis ‘ainiyah yang masih tertinggal zat, warna, rasa dan baunya, cara mencucinya cukup dengan menghilangkan zat, rasa, bau dan warnanya saja.

Istinja

Segala yang keluar dari kubul dan dubur seperti kencing dan berak, wajib disucikan dengan air hingga bersih. Barang yang dapat dipergunakan untuk beristinja antara lain:

  • Air
  • Batu (tiga batu atau batu yang punya tiga sisi)
  • Benda yang keras, kesat, suci. Tidak dianjurkan memakai kayu, tisu dan sebagainya.

Istinja dilakukan sebelum kotoran kering, dan kotoran itu tidak menyebar sampai mengenai tempat selain jalan keluarnya. Apabila kotoran sudah kering, maka wajib dibersihkan dengan air.

Adab Buang Air

adab buang air besar atau kecil
silviabihiku.blogspot.com

Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan sebelum buang air besar atau kecil, diantaranya:

  1. Mendahulukan kaki kiri saat memasuki toilet.
  2. Jangan di tempat terbuka.
  3. Jangan di tempat yang dapat mengganggu orang lain.
  4. Jangan bercakap-cakap kecuali keadaan memaksa.
  5. Kalau terpaksa buang air di tempat terbuka, hendaknya jangan menghadap kiblat.
  6. Jangan membawa dan membaca kalimat Al Quran.
  7. Hendaklah memakai sepatu atau terompah sesuai dengan anjuran Rasulullah.
  8. Jangan buang air besar di air yang tenang kecuali airnya banyak.
  9. Buang air kecil jangan di lobang-lobang tanah yang kemungkingan akan menyakiti binatang.
  10. Hendaklah berdoa ketika masuk toilet.

Leave a Comment