Sahabatku yang Paling Unik Terbaik Selamanya

Sahabat Dunia Akhirat yang Antimainstream

Dalam perjalanan hidup, aku telah banyak bertemu dan mengenal banyak orang. Mereka semua merupakan temanku. Ya, bagiku siapa saja yang aku kenal, itulah temanku. Namun dari sekian banyaknya teman, tingkat pertemanannya berbeda. Adalah sahabat yang merupakan lebih dari sekedar teman biasa.

Kata orang, sahabat merupakan orang yang selalu hadir menemani hidup kita. Atau yang selalu memberikan hadiah disaat kita ulang tahun. Atau yang selalu mendengarkan curhatan kita. Ya itu semua memang bisa dikategorikan sebagai sahabat. Namun, bagiku seorang sahabat tidak harus melulu seperti itu. Yang pasti, dalam memilih sahabat haruslah yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.

Persaudaraan di antara kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang seumpama satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuhnya sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi sakit dan menyebabkan tidak bisa tidur. (HR. Muslim)

Bermacam-macam sahabat yang aku punya. Dari sekian banyaknya ada satu sahabatku yang paling antimainstream. Dia tidak seperti sahabatku lainnya. Walaupun kami sering berbeda pendapat, ngobrol hanya seperlunya, tak jarang aku menyindir ‘kelakuannya’. Namun tetap saja, tak bisa kupungkiri, dialah, yang insya Allah, sahabat sejati karena Allah.

Keunikan Sahabatku

Unik, berbeda dari yang lainnya, itulah yang aku lihat darinya, Ridwan Fadlika. Bisa saja unik di sini diartikan dengan ‘aneh’. Sekilas memang terlihat biasa saja, seperti teman-teman yang lainnya. Terlebih Ridwan ini orangnya sangat sopan.

Tak Ingin Bersentuhan dengan Lawan Jenis

Memang seharusnya kita untuk tidak asal bersentuhan dengan lawan jenis, walaupun sekedar untuk bersalaman. Namun waktu itu, saat masih SMP, hal semacam ini menjadi sesuatu yang ‘aneh’. Tak jarang dia disebut sombong, sok suci dan sebagainya. Namun Ridwan tetap istiqomah. Tak menghiraukan orang-orang yang berkomentar negatif. Dan akhirnya semuanya mulai paham apa yang Ridwan lakukan itu sesuatu yang benar.

Pada suatu hari, saat kelas 8, aku dan Ridwan berbeda kelas namun bersebelahan kelasnya. Ada salah satu teman perempuan di kelasnya Ridwan pingsan. Beberapa orang membantu membawa yang pingsan tersebut. Ketika orang lain sibuk melihat yang pingsan, aku hanya terfokus ke Ridwan. Dia terlihat ikut membantu membawa yang pingsan. Namun ketika diperhatikan, ternyata Ridwan hanya memegang lengan bajunya saja. Padahal ketiga teman lainnya kesusahan membawa yang pingsan, karena bodynya yang lumayan besar.

Anti Nyontek dan Dicontek

Contek-mencotek adalah perbuatan yang jelek. Namun sudah menjadi lumrah bagi anak sekolah. Sepertinya si Pintar wajib memberikan jawaban kepada teman-teman lainnya. Jika tidak, maka akan dianggap tidak setia kawan, pelit, dan sebagainya.

Ridwan merupakan orang yang tidak suka mencontek atau dicontek. Ridwan memang tak butuh mencontek karena dia memang sudah bisa dengan sendirinya. Dan tak seorangpun yang boleh mencontek hasil kerjanya.

Generasi anti contek-mencontek
Siswa yang Tidak Mau Dicontek Temannya

Teguh Terhadap Keyakinannya

Masa ABG (anak baru gede) biasanya sangat memperhatikan tampilan. Modis, gaul, ah pokoknya ingin terlihat gaya, terlebih di hadapan lawan jenis. Namun Ridwan ini berbeda. Dalam berpenampilan, dia sangat sederhana, dengan celana yang selalu menggantung (ngatung). Telihat sangat kolot.

Persahabatan Karena Allah

Aku mengenal Ridwan sejak kelas 5 SD ketika lomba Siswa Teladan. Namun benar-benar kenal dan menjadi teman ketika masuk SMP. Sejak itulah persahabatan ini dimulai. Banyak cerita yang kami lalui. Entah itu hal-hal yang menyenangkan atau yang tidak. Dimana ada aku, di situ ada Ridwan. Namun dimana ada Ridwan belum tentu ada aku. Kebersamaan aku dan Ridwan tidak hanya di SMP. Bahkan ketika SMA, selama tiga tahun kami satu kelas.

Teringat sebuah hadist Rasulullah SAW:
“Seseorang itu berdasarkan atas agama (perjalanan) sahabatnya, maka hendaklah seseorang di antara kamu memerhatikan siapa yang harus di pilih menjadi sahabat.”
(Hadis Riwayat Abu Daud, At-Tarmizi dan al-Hakim dari Abu Hurairah)

Dengan penuh keyakinan, aku menjadikan persahabatanku dengan Ridwan karena Allah SWT. Karena aku tahu, Ridwan tidak hanya berprestasi di bidang akademik tetapi juga dalam hal agama. Tak jarang ia menasihatiku untuk tetap istiqomah dalam menjalankan ibadah.

Ada sebuah hadist datang dari dari Abu Musa, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Seseorang yang berteman dengan orang sholih bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan berteman dengan orang jahat bagaikan berteman dengan tukang besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak wangi olehnya, engkau boleh membeli darinya atau sekurang-kurangnya dapat baunya. Adapun berteman dengan tukang besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, paling tidak engkau dapat baunya yang tidak sedap.”
(Hadis Riwayat Imam al- Bukhari)

Saat ini Ridwan sedang dalam perjalanan meraih mimpinya. Dia sekarang berstatus mahasiswa S2 FTMD ITB. Sedangkan aku? Ah aku mah apa atuh, hanya bisa mendoakan kesuksesannya dari sini. Semoga persahabatan kita tidak hanya di dunia ini.