Pentingnya Mempelajari Ilmu Tajwid

Sejak terbitnya fajar Islam di tanah Arab hingga terpancarnya cahaya Ilahi ke seluruh alam, kaum Muslimin tiada henti menggali dan mendalami Al Quran. Tidak terhitung banyaknya kepustakaan diterbitkan orang sebagai hasil dari penelaahan terhadap Al Quran. Berbagai disiplin ilmu pun tegak dan berkembang sebagai buah dari pengkajian terhadap Al Quran.

Di antara ilmu-ilmu yang berkisar tentang Al Quran tersebut adalah Ilmu Tajwid. Para ulama dari zaman ke zaman telah menuntun kaum Muslimin dengan ilmu ini. Ilmu yang bermanfaat, yang mengajarkan tata cara melafalkan huruf demi huruf dalam Al Quran, sehingga hak-hak huruf dipenuhi sebagaimana mestinya dan hukum-hukum bacaan diterapkan secara benar. Seluruhnya bermuara, agar Al Quran tetap terpelihara sepanjang masa. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr :9)

Pentingnya Mempelajari Ilmu Tajwid

… Dan bacalah Al Quran dengan tartil.
(Q.S. Al Muzzammil: 4)

Maksud ayat ini ialah agar kita membaca Al Quran dengan perlahan-lahan sehingga membantu pemahaman dan perenungan terhadap Al Quran. Demikianlah cara Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam membaca Al Quran. Sebagai mana dijelaskan ‘Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. membaca Al Quran dengan tartil sehingga bacaan yang seharusnya dibaca panjang memang dibaca panjang.

Ayat-ayat lain yang senada dengan maksud ayat di atas adalah:

Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia… (Q.S. Al Isra’: 106)

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. (Q.S. Al Qiyamah: 16-17)

Anas bin Malik r.a. ketika ditanya mengenai cara Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. membaca Al Quran, menjawab:

Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. membaca (Al Quran) dengan madd. Kemudian (Anas bin Malik r.a. mencontohkan dengan) membaca bismillahirrahmanirrahim seraya memanjangkan bismillah, memanjangkan ar-rahman, dan memanjangkan ar-rahim. (H.R. Bukhari)

Jika demikian cara Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. membaca Al Quran, maka selanjutnya muncul pertanyaan: bagaimanakah cara kita mengetahui bahwa suatu lafazh mesti dibaca panjang?

Surah Al Muzzammil ayat 4 secara langsung memerintahkan kaum Muslimin untuk membaca Al Quran dengan tartil. Itu artinya, secara tidak langsung kita pun dituntut untuk mempelajari ilmu tentang tata cara membaca Al Quran dengan tartil. Ilmu yang dimaksud tidak lain adalah Tajwid.

Arti Kata Tajwid

Tajwid secara bahasa berasal dari kata jawwada, yujawwidu, tajwidan yang artinya membaguskan atau membuat jadi bagus. Dalam pengertian lain menurut lughah, tajwid dapat pula diartikan sebagai: Segala sesuatu yang mendatangkan kebajikan. Sedangkan pengertian Tajwid menurut istilah adalah:

Ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf, baik hak-hak huruf (haqqul harf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf (mustahaqqul harf) dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf, hukum-hukum madd, dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah tarqiq, tafkhim, dan yang semisalnya.

Dalam sebuah nazham dijelaskan bahwa Ilmu Tajwid adalah:

Ilmu yang memberikan pengertian tentang hak-hak huruf dari sifat huruf dan mustahaqqul harf.

Imam Jalaludin as-Suyuthi rahimahullah dalam al-Itqan juga memberikan penekanan yang hampir sama pada definisi tajwid, yaitu:

Memberikan huruf akan hak-haknya dan tertibnya, mengembalikan huruf kepada mahkraj dan asal (sifat)nya seta menghaluskan pengucapan dengan cara yang sempurna tanpa berlebih-lebihan, serampangan, tergesa-gesa, dan dipaksakan.

Pembagian Ilmu Tajwid

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, ruang lingkup Ilmu Tajwid secara garis besar dapat kita bagi menjadi dua bagian:

1. Haqqul Harf

Yaitu segala sesuatu yang wajib ada (lazimah) pada setiap huruf. Hak huruf meliputi sifat-sifat huruf (shifatul harf) dan tempat-tempat keluarnya huruf (makhrajul harf). Apabila hak huruf ditiadakan, maka semua suara yang diucapkan tidak mungkin mengandung makna karena bunyinya menjadi tidak jelas. Begitu pun lambang suara tidak mungkin diwujudkan dalam bentuk tulisan. Contohnya suara-suara alam yang sukar dipahami.

2. Mustahaqqul Harf

Yaitu hukum-hukum baru (‘aridlah) yang timbul oleh sebab-sebab tertentu setelah hak-hak huruf melekat pada setiap huruf. Hukum-hukum ini berguna untuk menjaga hak-hak huruf tersebut, makna-makna yang terkandung di dalamnya serta makna-makna yang dikehendaki oleh setiap rangkaian huruf (lafazh). Mustahaqqul harf meliputi hukum-hukum seperti Izh-har, Ikhfa, Iqlab, Idgham, Qalqalah, Ghunnah, Tafkhim, Tarqiq, madd, waqaf, dan lain-lain.

Selain pembagian di atas, ada pula yang membagi Ilmu Tajwid ke dalam enam cakupan masalah, yaitu:

  1. Makhrajul Huruf, membahas tentang tempat-tempat keluar huruf.
  2. Shifatul Huruf, membahas tentang sifat-sifat huruf.
  3. Ahkamul Huruf, membahas tentang hukum-hukum yang lahir dari hubungan antar huruf.
  4. Ahkamul Maddi wal Qashr, membahas tentang hukum-hukum memanjangkan dan memendekkan bacaan.
  5. Ahkamul Waqfi wal Ibtida, membahas tentang hukum-hukum menghentikan dan memulai bacaan.
  6. Al-khath-thul ‘Utsmani, membahas tentang bentuk tulisan Mushaf ‘Utsmani.

Al Quran merupakan firman Allah yang agung, yang dijadikan pedoman hidup oleh seluruh kaum Muslimin. Membacanya bernilai ibadah dan mengamalkannya merupakan kewajiban yang diperintahkan dalam agama. Seorang muslim harus mampu membaca ayat-ayat Al Quran dengan baik sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Inilah salah satu tujuan mempelajari Ilmu Tajwid, sebagaimana diterangkan oleh Syekh Muhammad al Mahmud rahimahullah:

Tujuan (mempelajari ilmu tajwid) ialah agar dapat membaca ayat-ayat Al Quran secara betul (fasih) sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam. Dengan kata lain, agar dapat memelihara lisan dari kesalahan-kesalahan ketika membaca kitab Allah Ta’ala.

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid dan Membaca Al Quran dengan Tajwid

Hukum mempelajari ilmu tajwid sebagai disiplin ilmu adalah fardu kifayah atau merupakan kewajiban kolektif. Ini artinya, mempelajari ilmu tajwid secara mendalam tidak diharuskan bagi setiap orang, tetapi cukup diwakili oleh beberapa orang saja. Namun, jika dalam satu kaum tidak ada seorang pun yang mempelajari ilmu tajwid, berdosalah kaum itu.

Adapun hukum membaca Al Quran dengan memakai aturan-aturan tajwid adalah fardu ain atau kewajiban pribadi. Membaca Al Quran sebagai sebuah ibadah haruslah dilaksanakan sesuai ketentuan. Ketentuan itulah yang terangkum dalam ilmu tajwid. Dengan demikian, memakai ilmu tajwid dalam membaca Al Quran hukumnya wajib bagi setiap orang, tidak bisa diwakili oleh orang lain. Apabila seseorang membaca Al Quran dengan tidak memakai tajwid, hukumnya bedosa.

Dalam kitab Hidayatul Mustafid fi Ahkamit Tajwid dijelaskan:

Tidak ada perbedaan pendapat bahwasanya (mempelajari) Ilmu Tajwid hukumnya fardu kifayah, sementara mengamalkannya (tatkala membaca Al Quran) hukumnya fardu ain bagi setiap Muslim dan Muslimah yang telah mukalaf.

Syehk Ibnul Jazari dalam syairnya mengatakan:

Membaca Al Quran dengan tajwib, hukumnya wajib. Siapa saja yang membaca Al Quran tanpa memakai tajwid, hukumnya dosa. Karena sesungguhnya Allah menurunkan Al Quran berikut tajwidnya. Demikianlah yang sampai kepada kita dariNya.

Para ulama qiraat telah sepakat bahwa membaca Al Quran tanpa tajwid merupakan suatu lahn atau kesalahan. Imam Jalaludin as Suyuthi menjelaskan bahwa setidaknya ada dua macam lahn yang mungkin terjadi pada orang yang membaca Al Quran tanpa tajwid:

1. Lahn Jali

Yaitu kesalahan yang nyata pada lafazh sehingga kesalahan tersebut dapat diketahui oleh para ulama dan orang kebanyakan. Lahn Jali ada yang dapat mengubah makna dan ada pula yang tidak. Lahn Jali yang mengubah makna ialah:

a. Bergantinya suatu harakat menjadi harakat lain.
Contohnya lafazh

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِم

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka … (Q.S. Al Fatihah: 7)

Bila lafazh an’amta dibaca an’amtu, maka dlamir-nya berubah menjadi aku, sehingga artinya menjadi: (yaitu) jalan orang-orang yang telah aku anugerahkan nikmat kepada mereka… Atau bila dibaca an’amti, maka dlamir-nya berubah menjadi kamu perempuan. Padahal makna yang dimaksud adalah “Engkau” yaitu Allah yang telah memberikan kenikmatan, yang dalam lafazh di atas menyandang dlamir anta.

b. Bergantinya sukun menjadi harakat
Contohnya lafazh:

وَمِنَ الْبَقَرِ وَالْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَا

… dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya … (Q.S. Al An’am: 146)

Jika lafazh hamalat dibaca halamatu, maka dlamir-nya berubah menjadi aku, sehingga artinya menjadi: … dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang aku lekatkan di punggung keduanya…

c. Bergantinya suatu huruf menjadi huruf lain
Contohnya lafazh:

وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

… dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (Q.S. Al Jatsiyah: 12)

Bila lafazh tasykuruna dibaca taskuruna (huruf syin berubah menjadi sin), maka artinya menjadi: dan mudah-mudahan kamu mabuk.

Adapun Lahn Jali yang tidak mengubah makna contohnya ialah lafazh alhamdulillahi yang dibaca alhamdulillahu atau lafazh lamyalid walam yulad yang dibaca lam yalidu walam yulad. Walaupun tidak mengubah makna, keduanya tergolong sebagai Lahm Jali yang haram dilakukan.

2. Lahn Khafi

Yaitu kesalahan yang tersembunyi pada lafazh. Kesalahan ini tidak dapat diketahui kecuali oleh para ulama qiraat atau kalangan tertentu yang mendalami ilmu qiraat. Para ulama tersebut biasanya menghafal berbagai lafazh dalam Al Quran dan menerimanya secara talaqqi (langsung) dari ulama lain. Di antara kesalahan yang tergolong sebagai Lahn Khafi adalah:

  1. Menggetarkan (Takrir) huruf ra’ secara keterlaluan.
  2. Mendengungkan suara tanwin.
  3. Menebalkan (taghlizh) suara huruf lam tidak pada tempatnya.
  4. Mengetarkan suara secara berlebihan pada madd dan ghunnah.
  5. Menambah atau mengurangi ukuran madd suatu bacaan.
  6. Mengabaikan ghunnah pada bacaan yang seharusnya dibaca ghunnah, menambah atau mengurangi ukuran ghunnah suatu bacaan.
  7. Melafalkan harakat secara tidak jelas. Misalnya, mengucapkan dhammah yang cenderung bunyinya ke arah fat-hah atau mengucapkan kasrah yang cenderung bunyinya ke arah fat-hah.

Add Comment