Mimpi Seorang Bocah SD berada di kelas

Mimpi Seorang Bocah SD

Sebuah tekad yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh dapat mewujudkan mimpi-mimpi, termasuk mimpi-mimpi yang bisa dikatakan mustahil jika kita yang mewujudkannya.

Setiap manusia di dunia ini pasti punya mimpi. Termasuk seorang bocah yang hidup di daerah rawan banjir sekalipun.

Awal Mula Mimpi

Aku, seorang bocah dari keluarga yang tidak punya. Ayahku seorang buruh bangunan dan ibu pun kerja serabutan. Saat duduk di bangku sekolah dasar, aku sering diolok-olok teman-teman, karena dari keluarga tidak punya dan tubuhku kecil jika dibandingkan teman-teman sekelas lainnya. Bukan hanya itu, warna kulitku lebih gelap dari warna kulit rata-rata penduduk asli Indonesia.

Hampir setiap pulang sekolah aku mengeluh kepada ibuku karena kelakuan teman-temanku. Bahkan sempat dimusuhi teman satu kelas karena hasutan seorang teman yang begitu ‘berpengaruh’ di kelas. Namun ibuku selalu bilang agar aku bersabar dan terus belajar lebih giat. Aku pun mematuhi apa yang ibu katakan. Dan benar saja, setelah terus menerus menjadi juara kelas, tepatnya kelas 4, tak ada lagi yang memusuhiku.

Saat kelas 5 SD ada seorang pegawai dari Dinas Pendidikan datang ke sekolah. Setelah istirahat, kami tidak belajar seperti biasanya. Tapi diisi oleh pegawai Dinas Pendidikan tersebut. Intinya beliau memberitahukan akan ada lomba Siswa Teladan Tingkat Kecamatan. Saat beliau menjelaskan, teman-temanku sangat gaduh. Namun pegawai Dinas Pendidikan tersebut diam saja.

Satu jam sudah pegawai Dinas Pendidikan tersebut presentasi tentang lomba Siswa Teladan. Tiba-tiba beliau bilang, bahwa yang akan ikut lomba dari sekolahku adalah cucunya kepala sekolah. Aku kaget dan dengan refleks mempertanyakan bagaimana bisa langsung tunjuk saja? Padahal aku juara kelas dan cucunya kepala sekolah ranking dibawahku. Beliau malah mencibir dan memarahiku. Aku kesal namun hanya bisa diam saja.

Selesai memarahiku, beliau menyuruh kami untuk memasukan alat tulis ke dalam tas karena setelah itu kami langsung dipulangkan. Namun dengan tidak sengaja, aku menjatuhkan pensil. Pensil tersebut jatuh cukup jauh dari tempat dudukku. Sehingga memaksaku untuk keluar dari tempat dudukku. Tiba-tiba kepalaku ada yang memukul. Aku mengira itu temanku yang jahil. Ternyata yang memukulku adalah pegawai dari Dinas Pendidikan tersebut. Dan beliau pun melanjutkan marahnya. Bahkan bilang bahwa orang sepertiku tak pantas untuk ikut lomba Siswa Teladan. Aku diam saja dan kembali ke tempat dudukku. Dalam hatiku berkata, aku akan buktikan yang akan ikut lomba itu aku, bukan cucunya kepala sekolah.

Siswa SD Berada di Lapangan
Siswa-siswi SD berbaris di lapangan

 

Proses Terwujudnya Mimpi

Esok harinya aku bertanya ke wali kelas, siapa sebenarnya yang akan mengikuti lomba Siswa Teladan. Namun wali kelasku hanya bilang bahwa akan diadakan tes untuk rangking 1 sampai 10. Mendengar itu aku merasa lega. Pada saat itu aku merasa sangat pede. Selama seminggu aku sangat rajin belajar. Ingin sekali membuktikan bahwa akulah yang akan ikut lomba.

Pada hari yang telah ditentukan, kami yang memiliki ranking kelas 1 sampai 10 dites. Kami dikasih 100 soal pilihan ganda. Mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS. Saat melihat soal, aku hanya senyum-senyum. Karena soal-soal tersebut sudah pernah saya kerjakan sebelumnya. Dan aku pun mengerjakannya tanpa kendala.

Belajar Lebih Giat

Dua hari kemudian, hasil tes diumumkan. Dan akulah yang mewakili sekolah untuk mengikuti lomba Siswa Teladan di tingkat gugus beserta satu teman perempuanku. Saat itu wali kelasku menasihatiku agar lebih giat lagi belajarnya. Kata beliau, minimal aku harus dapat masuk lima besar di tingkat Kecamatan.

Sekitar dua minggu, aku pulang sekolah setelah ashar. Makan siang bareng wali kelasku di sekolah. Bersama teman perempuanku yang akan mewakili sekolah untuk ikut lomba, kami belajar dengan sangat serius.

Tingkat Gugus

Pukul 6 pagi aku sudah berada di sekolah. Tidak lama kemudian wali kelas dan temanku datang juga. Kami pun berangkat ke tempat lomba. Ternyata tempat lomba Siswa Teladan tingkat gugus berada di sekolah dekat dengan rumahku. Dan para guru di sana pun mengenal aku.

Pada saat lomba, kami diawasi oleh salah seorang guru sekolah tersebut. Awalnya guru tersebut ngajak saya ngobrol. Namun aku tetap saja fokus mengerjakan soal. Namun tiba-tiba guru tersebut membaca jawabanku. Kemudian beliau pindah ke tempat duduk muridnya yang duduk tepat di depanku. Tanpa permisi, beliau mencontek jawabanku lalu diberitahukan kepada muridnya tersebut. Aku tutup kertas jawabanku, namun beliau maksa membukanya. Aku pasrah. 🙁

Kekuatan Sebuah Doa

Sepulangnya dari tes, aku merasa kesal. Aku menceritakan kepada ibuku kejadian tersebut. Ibuku hanya bilang, sabar aja, Allah Maha Melihat kok. Berdoa saja yang rajin, lanjutnya.

Setelah seminggu kemudian hasilnya diumumkan. Dan alhamdulillah, aku lolos mewakili gugus untuk ikut lomba tingkat kecamatan. Aku semakin rajin belajar dibantu wali kelasku.

Dua minggu sudah aku belajar intens dengan wali kelasku. Dan hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Inilah hari pembuktian, kataku dalam hati. Dua jam mengerjakan soal pilihan ganda ditambah satu jam untuk kesenian. Semuanya aku lalui dengan sedikit was-was.

Pukul 12 siang, akhirnya pengumuman pemenang. Dimulai dari harapan 2, kemudian harapan 1. Namaku tak disebutkan. Aku merasa hopeless. Namun saat pengumuman juara ke-3, namaku dipanggil. Sedikit tidak percaya, aku menoleh kanan-kiri. Kemudian sekali lagi namaku dipanggil beserta nama sekolahku. Alhamdulillah, dalam hatiku merasa bahagia. Aku telah membuktikannya. Aku bisa!