Mimpi Besarku

Mimpi mungkin bisa diibaratkan dengan ruh. Karena ketika manusia tidak mempunyai mimpi, maka hidup ini tidak akan berarti lagi. Begitu sebaliknya, mimpi membuat manusia menjalani hidup dengan penuh semangat. Karena mimpi merupakan awal dari sebuah tujuan hidup. Dan setiap apa yang kita lakukan, kemana kaki kita melangkah, haruslah lebih mendekatkan kita kepada mimpi dan tujuan tersebut.

Hilangnya Tujuan Hidup

Saat duduk di bangku SMA, aku sangat menyukai apapun yang berhubungan dengan komputer. Tidak sedikit waktu yang aku ‘buang’ demi mempelajarinya. Bahkan aku dipanggil ‘kuncen’ ruang komputer. Karena setiap hari, aku pasti ada di ruang tersebut. Sejak itu, aku memutuskan akan melanjutkan ke perguruan tinggi jurusan teknik informatika.

Saat kelas XII aku sering mengikuti try out SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan aku selalu memilih teknik informatika sebagai pilihan pertama. Namun setiap try out yang aku ikuti, aku selalu gagal. Saat mendekati tes yang sesungguhnya, entah kenapa aku malah banting stir. Aku memilih teknik mesin. Dan aku diterima.

Tahun pertama aku mencoba untuk mencintai apa yang telah kupilih. Semester pertama IP (Index Prestasi) aku 3,4 dan di semester kedua turun jadi 3,1. Di tahun kedua, mulai kehilangan semangat. Terlebih saat aku mulai terserang suatu penyakit.

Semester genap di tahun kedua, aku menjalani operasi. Karena tumbuh benjolan di kepala dan selalu mengeluarkan darah yang cukup banyak. Aku kira setelah dioperasi akan menjadi normal dan sehat kembali. Namun diluar dugaan, aku malah makin drop. Setiap melihat cahaya matahari, aku langsung merasa gelap. Beberapa dokter telah aku datangi. Berbagai pengobatan telah aku coba. Hasilnya tetap sama.

Mimpi yang hilang karena suatu masalah

Siluet seorang laki-laki yang sedang merenungi hidupnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk ambil cuti kuliah. Karena memang sudah tidak fokus lagi untuk belajar. Bahkan, aku merasa telah kehilangan semangat hidup. Bagaimana tidak? Aku tidak bisa beraktivitas sebagaimana manusia normal lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke seorang dokter. Setelah menceritakan semua keluhan, dokter tersebut malah menyarankan aku untuk berhenti meminum obat. Beliau menyarankan aku untuk memulai hidup sehat. Beliau memberikan tips-tips yang sangat detail. Aku menjalakan tips-tips yang dokter berikan. Dan alhamdulillah, sedikit demi sedikit aku kembali normal.

Menemukan Kembali Tujuan Hidup

Setelah sembuh dari sakit itu, aku sudah tidak lagi punya semangat untuk meneruskan kuliah. Aku malah ikut kerja kesana-sini, jualan ini-itu. Pada akhir tahun 2014, aku ditawari untuk ikut kerja di Semarang. Namun aku sedikit ragu juga, karena perusahaannya baru merintis.

Pertengahan Januari, aku mendapatkan info tentang Pesantren Sintesa. Awalnya aku tidak merasa tertarik karena hanya membaca sekilas saja. Namun setelah membaca ulang, aku jadi sangat tertarik. Langsung saja aku mengisi formulir. Dan alhamdulillah singkat cerita, aku bisa juga sampai di sini, Yogyakarta.

Tujuan utamaku masuk Sintesa adalah memperbaiki hidup yang selama ini aku rasa sangat berantakan. Terlebih ada program hafalan Al Qur’an. Karena orang tuaku ingin sekali aku bisa menghafal Al Qur’an.

Jujur saja, aku sangat minim bahkan buta dalam dunia bisnis. Untuk itulah aku nekat daftar ke sini. Dengan harapan bisa mendapatkan ilmu tentang bisnis, entah itu offline atau online.

Tugas dari Sang Guru

Sore tadi Mas Vatih, salah seorang masternya Online Marketing dan guru di Sintesa, memberikan tugas menuliskan tujuan setelah keluar dari Sintesa. Aku bingung, apa tujuanku selanjutnya? Namun secara garis besar, ada dua yang ingin aku capai. Tercapainya tujuan dunia dan akhirat. Untuk tujuan akhirat jelas, ridho Allah dan masuk surga. Dan untuk tujuan dunia, aku ingin membangun sebuah bisnis yang saat ini aku masih kebingungan. Dan juga aku ingin membangun sebuah pondok seperti Pondok Programmer dan Sintesa ini serta rumah sakit gratis.

Misi Mencapai Tujuan

*bersambung