Masjid Jogokariyan yang Selama Ini Aku Impikan

Bagi kita yang suka ber-social mediatwitter atau facebook, mungkin tidak asing dengan Ust. Salim A. Fillah. Tidak sedikit yang jatuh hati dengan kata-kata beliau, entah itu di buku-buku yang beliau karang atau di lini masa. Kemudian ada satu nama masjid yang sering beliau sebut yaitu Masjid Jogokariyan. Aku sangat penasaran terhadap masjid tersebut. Kemudian mencari-cari informasi tentang Masjid Jogokariyan ini.

Halaman Parkir Masjid Jogokariyan

Halaman Parkir Masjid Jogokariyan

Fakta-Fakta Tentang Masjid Jogokariyan

Dari hasil pencarianku di dunia maya, aku menemukan beberapa informasi yang membuatku sangat ingin mengunjunginya. Dalam hati aku berdoa, Yaa Allah, perkenankanlah aku untuk mengunjunginya.

Dari informasi yang saya dapatkan bahwa Masjid Jogokariyan memiliki jamaah yang luar biasa. Jamaah Sholat Subuh sama banyaknya dengan jamaah Sholat Maghrib. Sangat jarang kita temui masjid yang memiliki jamaah seperti ini. Dengan rasa kepo yang sangat tinggi, akhirnya aku mendapatkan rahasia kenapa Masjid Jogokariyan memiliki jamaah seperti ini, yaitu:

1. Masjid tidak dibangun hanya untuk sekedar sholat berjamaah.

Pembangunan masjid ini mengikuti seperti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saat membangun Masjid Nabawi. Rasulullah membangun Masjid Nabawi tidak hanya sekedar untuk sholat berjamaah, tapi lebih dari itu. Masjid menjadi awal tumbuhnya perekonomian umat. Masjid pun berfungsi untuk menaungi permasalahan masyarakat untuk diselesaikan. Masjid menjadi pusat tersebarnya ilmu.

2. Program Infaq Mandiri

Program Infaq Mandiri tercetus di awal tahun 2000. Sebuah selebaran dibagi-bagikan kepada jamaah yang isinya lebih kurang seperti berikut: “Biaya yang anda habiskan untuk sholat di sini sekitar Rp. ‘sekian’ (hasil dari perhitungan seluruh pengeluaran dalam setahun dibagi jumlah jamaah per hari dibagi 365 hari). Sukses! Keuangan masjid meningkat sehingga hiduplah kegiatan-kegiatan masjid.

3. Meramaikan Sholat Subuh

Pendataan masyarakat yang tidak sholat subuh berjamaah. Kemudian dikirimi surat undangan layaknya surat undangan pernikahan. Eksklusif. Sehingga masyarakat tertarik untuk sholat berjamaah, terlebih ada tambahan berupa snack dan doorprice. Mantep banget kan?! Rasanya tak ingin deh terlewat sehari pun tidak ikut sholat subuh berjamaah, bisa mengurangi biaya makan. Kemudian setelah masyarakat mulai terbiasa sholat subuh berjamaah, maka digantilah ‘pancingannya’ dengan sabda Rasulullah SAW bahwa sholat sunnah 2 rakaat sebelum sholat subuh lebih utama dari pada dunia dan seisinya. Semoga insaf para jamaahnya dengan iming-iming sabda Rasulullah SAW tersebut dibandingkan dengan snack dan doorprice. Apabila masyarakat sudah terbiasa sholat subuh secara berjamaah maka sholat-sholat lainnya akan lebih mudah dikerjakan.

4. Memperbaiki Ekonomi Masyarakat

Bagaimana bisa khusuk sholatnya kalau perutnya lapar dan dibuat pusing oleh biaya sekolah anaknya? Kalimat sederhana memiliki makna yang luas. Dengan berlandaskan kalimat sederhana ini maka terciptalah makan siang gratis, beasiswa untuk yang kesulitan membiayai anaknya untuk sekolah dan pinjaman bagi yang ingin membuka usaha. Dengan program seperti ini membuat masyarakat lebih simpatik dan kecintaan serta rasa memiliki terhadap masjid perlahan tumbuh.

5. Pusat Pembelajaran Agama

Setelah kegiatan pemberdayaan mulai berjalan, pemikiran masyarakat dibenahi. Sesuatu yang bersinggungan dengan adat istiadat yang menyimpang perlahan mulai diluruskan dengan beragam kajian. Kajian tauhid, sirah sampai kajian meluruskan tradisi. Pendataan masyarakat Jogokariyan yang tidak bisa mengaji Al Quran dan tidak bisa sholat. Kemudian dibentuk kelompok Baca Tulis Al Quran dan kelompok pelatihan sholat di tingkat RT. Subhanallah.

6. Nama Masjid Jogokariyan

Tidak seperti kebanyakan nama masjid-masjid lain, nama Masjid Jogokariyan diambil dari nama kampung dimana masjid tersebut dibangun. Seperti halnya ketika Rasulullah SAW membangun Masjid Quba di kampung Quba. Dengan begini, membuat lebih mudah mengelola masjid dalam melayani dan bertanggungjawab terhadap masyarakatnya, karena jelas masyarakat yang akan dilayani adalah masyarakat Jogokariyan.

Doa yang Dikabulkan

Hampir setiap membuka twitter dan melihat kicauannya ust. Salim A. Fillah aku selalu teringat tentang Masjid Jogokariyan. Dan di situ aku terus berdoa semoga Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengunjungi masjid ini. Awal Februari, ketika tiba di Pondok Sintesa, aku merasa sudah semakin dekat dengan Masjid Jogokariyan. Dan berharap di hari libur aku bisa mengunjunginya.

Tiga minggu sudah aku berada di Yogyakarta, namun aku masih belum juga mengunjungi Masjid Jogokariyan. Rencananya aku akan ke sana pada hari Minggu berikutnya. Namun di hari Senin, Bifta, salah satu rekan di Pondok Sintesa meminta tolong untuk ditemani mengambil wadah sabun. Aku pun menemaninya.

Di perjalanan, ada pesan bahwa orang yang janjian bersama Bifta sedang tidak di rumah. Dan pada saat itu langit sangat gelap pertanda hujan akan turun. Bingung mencari tempat berteduh, akhirnya Bifta mengatakan bahwa tidak jauh dari rumah tempat mengambil wadah sabun ada Masjid Jogokariyan. Tanpa pikir panjang aku pun meminta Bifta untuk ke Masjid Jogokariyan.

Ruang Utama Masjid Jogokariyan

Ruang Utama Masjid Jogokariyan

Alhamdulillah. Akhirnya doaku dikabulkan. Aku sangat kagum dengan masjid tersebut. Masjidnya memang tidak terlalu besar, namun terlihat sekali pengelolaannya yang bagus. Begitu rapi, bersih dan suasananya nyaman. Pada saat itu hujan sangat deras. Aku dan Bifta masuk ke ruang utama masjid. Udara di dalam tidak sedingin di luar masjid. Sangat nyaman. Dan di sana kami mencoba mengulang hapalan Q.S. Ali Imran ayat 1-15 hingga waktu Ashar tiba.