Maafkan Aku yang Selalu Membuatmu Khawatir, Ayah

Malam penuh kabut menemani perjalananku. Hening, yang terdengar hanya alunan napas penumpang sambil sesekali diwarnai tangis bayi yang tampak tidak nyaman dengan lamanya perjalanan. Perlahan, bis merangkak menyusuri jalan berliku, membawaku ke tempat tujuan.

Bis yang kutumpangi sama sekali tidak dapat berlari seperti biasanya di malam hari, hanya berjalan pelan merayap karena padatnya jalanan. Aku tidak terlalu heran dan tidak ambil pusing dengan kemacetan yang kualami sepanjang perjalanan. Selain karena pernah mengalami beberapa kali kemacetan seperti ini, kondisi fisikku juga sedang kurang fit, kepalaku rasanya ditindih batu berton-ton sehingga tidak peduli keadaan sekitar.

Sekitar tengah malam, bis mendekati tempat pemberhentianku. Aku bersiap-siap turun, berjalan menuju pintu depan. Namun saat melangkah hendak turun, tiba-tiba mataku terpaku pada sosok yang sangat familiar dari balik kaca bis. Ya, di pinggir jalan sana tampak seseorang menungguku, dialah ayah. Aku tak tega melihatnya, di malam-malam dingin seperti ini masih merelakan tubuhnya dihempas angin jalanan demi menungguku. Aku tak pernah mengharapkan hal itu, aku tak pernah mau membiarkan tubuh ayah kedinginan seperti itu.

Aku berjalan menghampiri ayah, lalu memanggilnya karena beliau tidak sadar akan kehadiranku. Aku mencium tangannya, kemudian terus menggenggamnya sampai tiba di rumah. Ayah bertanya tentang keterlambatan perjalananku, yang biasanya pulang di malam hari hanya butuh dua jam sekarang sudah hampir lima jam baru sampai. Alasannya cuma satu, macet. Ayah tidak terlihat khawatir karena tahu memang kondisi jalanan jalur selatan sedang padat disebabkan kendaraan yang biasa menggunakan jalur utara kini berganti melalui jalur selatan. Robohnya jembatan di daerah Pemalang sangat berimbas akan peralihan jalur kendaraan sehingga menyebabkan kemacetan di sini.

Berbeda dengan ibu, beliau tampak sangat khawatir. Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan hingga membuat beliau begitu khawatir sampai tidak bisa tidur menungguku. Salahku memang, sebelumnya aku berencana pulang sore hari tapi dengan alasan kepalaku pusing aku menundanya, dan aku bilang akan pulang besoknya. Tiba-tiba setelah isya, mendadak aku memilih pulang segera saja. Aku kabari orang rumah pulang malam ini. Tak lama setelah mengabari keluarga hape-ku lowbat, mati. Aku tetap membiarkannya mati, sampai tiba di rumah. Tak pernah terbayangkan olehku, ibuku begitu khawatir karena tidak dapat menghubungiku selama perjalanan. Melihat ibu mudaku yang begitu khawatir aku sungguh merasa bersalah sekaligus lucu. Ingin sekali menggodanya tapi tak berselera karena kondisi badanku yang lemas. Aku hanya tersenyum dan menunjukkan sikap yang mengartikan bahwa aku baik-baik saja.

Bagiku yang hidupnya agak kaku, lama terbiasa tanpa ‘say hay’ ataupun kangen-kangenan dengan keluarga by phone, cukup menggelikan ketika ibu bilang sulit menghubungiku. Bagiku yang biasa seperlunya berkomunikasi via sms ataupun telpon dengan keluarga, cukup heran dengan reaksi ibu yang tampak berlebihan mengkhawatirkanku. Seorang sahabat menjadi korban dari bentuk kekhawatiran ibuku, tengah malam sahabatku berulangkali ditelpon demi bertanya kabar terakhirku. Luar biasa bukan? Jika itu keluarga orang lain mungkin biasa saja, tapi karena ini keluargaku, maka aku anggap luar biasa. Ibu bahkan bilang bahwa ayah juga sebetulnya sangat khawatir tapi pura-pura terlihat tenang saja di depanku. Aku tersenyum mengiyakan, lalu masuk kamar.

Dengan mendengar perkataan terakhir ibu, aku sedikit merenung diantara lelahku. Aku, seorang perempuan muda, tengah malam belum sampai di rumah tanpa kabar apapun, bagaimana bisa aku berpikir bahwa orangtuaku tidak khawatir? Mau bagaimana lagi, aku terbiasa beranggapan bahwa orangtuaku pasti percaya padaku, mereka tak perlu khawatir karena selama ini aku selalu bisa membuktikan bahwa aku baik-baik saja, aku mampu menjaga diriku dengan baik. Namun, setelah melihat reaksi orangtuaku malam ini, aku tak lagi bisa lurus-lurus saja melakukan segala sesuatu semauku. Kini, aku harus mulai melakukan hal yang tak terlalu aku sukai.

Sebenarnya mudah saja, agar tidak membuat orangtua khawatir yang harus aku lakukan hanya melaporkan posisiku dimana, mereka tak akan melarang apalagi sampai memarahiku. Hanya saja, hal yang paling tidak aku sukai adalah pertanyaan “dimana?”. Aku tipe orang yang senang bersikap sok misterius, jadi ketidaktahuan akan posisiku cukup penting. Sebenarnya, alasan awal kenapa aku selalu tak suka dengan pertanyaan ‘dimana’ karena memang aku tak mau orang lain tahu kegiatan sehari-hariku. Aku malu seandainya diketahui aktivitasku tak berguna, aku malu seandainya orang lain menertawakan apa yang sedang aku lakukan. Karena dulu penilaian orang lain tanpa aku sadari memiliki bagian penting dalam hidupku, iya dulu, semoga itu dulu.

Selain rutin melaporkan posisiku, tetap menjaga hp dalam kondisi on adalah cara ke dua agar orang tua tidak khawatir. Bagiku, hanya dua hal tersebut yang perlu dilakukan. Atau tidak pernah izin sama sekali seperti yang biasa aku lakukan. Tapi aku tahu itu bukan cara yang baik sekalipun dengan niat agar orangtua tidak khawatir. Izin bagiku artinya doa, bukan jawaban iya atau tidak diizinkan yang aku butuhkan tapi lebih dari itu yakni keselamatan dan keberkahan perjalanan yang ada dalam doa orangtua. Jadi, sebisa mungkin selalu memohon izin pada orangtua, selagi orangtua masih hidup (bicara di depan cermin). Karena sebagaimanapun aku mengaku dewasa, tetap saja selama aku belum menikah aku masih tanggungjawab orangtua.

Apa aku selalu meminta izin? Tentu saja tidak, pada kenyataannya. Walaupun aku berkeyakinan bahwa izin adalah do’a, tetap saja aku selalu ga mau ribet. Kalau mau pergi, ya pergi saja kapanpun dan kemanapun sesukaku selama memiliki uang sendiri. Sombong, ego, merasa bahwa dengan uang sendiri bisa melakukan apapun maka izin dari orangtua seringkali dikesampingkan. Salah besar, aku bertingkah buruk selama ini. Mengacuhkan posisi orangtua sebagai orang yang bertanggungjawab terhadapku. Jika kelak aku bersuami, akankah kebiasaanku pergi tanpa izin tetap terjadi? Aku selalu membayangkan hal tersebut dan tentu saja membuatku tidak nyaman. Apakah artinya kebebasan bagiku? Aaaah maafkan…

Ayah, ibuu… Maafkan anakmu yang selalu mengira kau tak akan pernah khawatir tapi aku baru tahu kenyataannya lain. Aku yang selalu pergi dan pulang tanpa kabar, aku yang selalu ingin berada dimanapun semauku tanpa kau ketahui. Maafkaaaan!!! Semoga aku tak membebani pikiranmu lagi…

Rumah Tercinta, 20 Juli 2014

-Sholihah-

Leave a Comment