Inikah Rasanya Olimpiade?

Awal masuk SMP, aku banyak mendengar berbagai mitos yang menurutku hanya omong kosong belaka. Contohnya kelas A adalah kelasnya siswa-siswa berprestasi. Sedangkan kelas G sebenarnya tidak ada. Itu hanya kelas sementara sebelum diseleksi kembali. Kemudian aku mendengar kalau salah satu guru matematika sangat sadis. Aku membayangkan guru tersebut berwajah seram. Ada pula yang mengatakan bahwa ada satu pelajaran yang lebih sulit daripada matematika yaitu fisika. Dan masih banyak lagi mitos-mitos lainnya yang aku sendiri sudah lupa.

Tahun Pertama

Awal masuk SMP aku tidak begitu menonjol. Ya hanya siswa biasa saja. Bahkan duduk pun aku paling belakang. Tidak seperti yang lain, aku bisa dikatakan jauh dari guru, tidak begitu dikenal. Dalam hal pelajaran juga aku banyak tertinggal dari yang lainnya. Bahkan pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) aku mungkin yang paling lambat, setidaknya di kelasku.

Setiap siswa diberikan buku panduan yang berisi juga tugas-tugas yang tiap minggu harus diketik ulang di Microsoft Word. Buku panduan yang include tugas-tugas tersebut mungkin tebalnya hanya 40 halaman. Tugas-tugasnya sekitar 30-an halaman. Sehingga sekali melaksanakan praktikum harus selesai satu halaman.

Aku, seorang yang gaptek (gagap teknologi), pertama kali menggunakan komputer merasakan takjub. Mulai dari benda bulet yang memiliki dua tombol dan di tengahnya bisa berputar. Ada pula papan kumpulan tombol huruf yang ditempatkan secara acak. Satu-satunya yang sudah familiar buatku hanyalah benda seperti TV. Sebab kegaptekanku itulah, tugas yang mestinya bisa diselesaikan dalam waktu satu jam pelajaran, aku baru bisa menyelesaikannya beberapa minggu kemudian. Dan di akhir semester, aku hanya menyelesaikan empat atau lima halaman saja. Setelah pembagian buku raport, nilai-nilaiku sangat tidak memuaskan. Dalam hati, aku mesti memperbaiki ini semua!

Di awal semester genap, ada kabar tentang beasiswa Sampoerna Foundation. Namun dengan hasil nilai yang aku dapat, rasanya pesimis bisa mendapatkan beasiswa tersebut. Setelah beberapa bulan semester genap berjalan, yang mendapatkan beasiswa tersebut diumumkan dan seperti yang sudah kuduga, aku tidak termasuk. Ada lima orang, salah satu yang mendapatkan beasiswa Sampoerna Foundation adalah Ridwan. Dalam hatiku, ya dia sangat pantas mendapatkannya. Yang empat lainnya masih teman di kelas 7G.

Kecewa rasanya kepada diri sendiri. Namun dengan rasa kecewa itulah aku mulai belajar lebih sungguh-sungguh. Aku mendengar akan ada olimpiade sains tingkat kabupaten di akhir semester genap. Kemudian aku dipinjami buku kumpulan soal-soal fisika oleh seorang guru yang sangat aku kagumi. Aku pelajari secara sungguh-sungguh. Bahkan pelajaran yang belum diajarkan di kelas pun, sedikitnya aku sudah punya gambaran. Namun ketika hari itu tiba, hari dimana aku akan membuktikan kemampuanku, ternyata setiap sekolah hanya diperbolehkan membawa satu peserta tiap bidangnya. Di situ sering saya merasa sakit.

Walaupun sakitnya tuh di sini, namun tak mengapa, aku masih mempunyai kesempatan di tahun berikutnya. Dan juga bisa belajar lebih banyak lagi, sehingga bisa mendapatkan hasil semaksimal mungkin.

Tahun Kedua

Setahun sudah aku berada di kelas orang-orang pilihan. Bukan hanya siswanya, tapi juga wali kelas yang luar biasa. Walaupun kata siswa yang di kelas lain, wali kelas kita itu “galak”, namun aslinya wali kelas 7G itu sangat perhatian. Sering banget kami main ke rumah beliau. Namun, kebersamaan kami hanya di kelas 7 saja. Ketika naik kelas, kami disebar di semua kelas. Aku berada di kelas, yang katanya komplek “Legok Hangser”.

Aku dan Ridwan tidak satu kelas, namun kelasnya bersebelahan. Aku kelas 8E dan Ridwan kelas 8F. Ada suka dan dukanya juga berpisah dengan Ridwan. Tidak ada yang bisa jadi sumber untuk aku tanyai. Namun aku juga senang, aku optimis bisa jadi juara di kelas ini.

Di kelas 8 ini, aku semakin semangat belajar fisika. Namun tetap tidak melupakan pelajaran lainnya. Bahkan sering diberikan soal-soal tambahan oleh guru fisika favoritku itu. Rasanya pelajaran fisika untuk kelas 9 pun, aku sudah memahaminya.

Aku berada di kelas 8 sudah hampir setahun. Tak terasa ujian semester pun di depan mata. Aku sedikit bimbang, antara fokus untuk belajar fisika saja atau belajar untuk ujian semester. Karena olimpiade sains tingkat kabupaten diadakan beberapa hari setelah ujian semester berakhir. Namun akhirnya aku tetap belajar untuk ujian semester. Karena takut di-PHP lagi.

Olimpiade Sains SMP/MTs Tingkat Kabupaten

Satu minggu ujian semester dilaksanakan dengan penuh harap-harap cemas. Karena aku belajarnya tidak terlalu fokus. Namun rasanya aku masih bisa menjawab soal-soal tersebut. Untuk benar atau tidaknya aku tak menjamin. Hehe…

Hari yang aku nantikan akhirnya tiba. Dengan penuh keyakinan, aku melangkah keluar rumah sambil meminta doa dari kedua orang tuaku. Aku berangkat ke sekolah terpaksa naik ojek, karena takut telat. Yang mengikuti olimpiade ada tiga orang. Aku olimpiade fisika, Ridwan olimpiade matematika dan Rita olimpiade biologi. Aku dan Ridwan naik angkutan umum beserta Bapak Septana, guru matematika dan juga bahasa Inggris. Sedangkan Rita naik motor, dibonceng Bapak Karsono, guru bahasa Indonesia. Kami semua tiba di SMPN 2 Subang tepat waktu.

Ternyata sudah banyak peserta yang sudah tiba di sana. Ada satu orang yang mengganggu konsentrasiku. Dia adalah Niken, siswi SMP Bunda Maria, yang dulu jadi juara Siswa Teladan beserta Ridwan. Aku sedikit pesimis. Namun, pak Karsono memberikan semangat agar tidak terpengaruh dengan peserta lainnya. Kita mesti yakin dengan kemampuan diri sendiri.

Ada pemberitahuan bahwa peserta dipersilakan masuk ke ruangan sesuai dengan kategorinya. Aku masuk ke ruangan fisika. Ketika masuk, sebagian besar peserta sudah menempati tempat duduk barisan depan. Aku melihat kesana-sini, rasanya orang-orang cerdas semua yang ada di ruangan ini, membuat mentalku down.

Dua jam kami semua diberikan waktu untuk mengerjakan soal olimpiade tersebut. Dengan mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiim, kau yakin atas usahaku selama ini. Dan tentunya bertawakal kepada Allah atas hasil yang akan aku dapatkan nantinya.

Selesai sudah aku mengerjakan soal-soal yang menurut tidak terlalu sulit. Karena aku sudah terbiasa melihat soal seperti itu. Aku berkumpul kembali dengan Ridwan, Rita dan pak Septana. Kami menunggu pengumuman. Namun ternyata hasilnya akan diumumkan beberapa hari kemudian.

*bersambung