Fakta Tentang Anjing (part II)

Saat ini banyak sekali pecinta-pecinta hewan. Salah satu hewan peliharaan yang menjadi favorit adalah anjing. Secara umum, anjing memang terlihat menakutkan. Namun banyak juga anjing yang terlihat lucu dan menggemaskan. Apakah hukumnya dalam agama Islam?

Anjing dalam Pandangan Agama Islam

Hukum Memelihara Anjing

Ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Namun jumhur ulama menyatakan tidak boleh memelihara anjing atau memanfaatkan anjing selain untuk keperluan tertentu seperti sebagai anjing untuk memburu binatang (seperti babi hutan), anjing penjaga dan maksud lainnya yang tidak bertentangan dengan Islam.

Hadits dilarangnya memelihara anjing datang dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam,

مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

Barangsiapa memanfaatkan anjing selain untuk menjaga ternak, anjing untuk berburu, atau anjing yang untuk menjaga tanaman, maka pahalanya akan berkurang setiap hari sebesar satu qiroth” (HR. Muslim no. 1575). Ath Thibiy berpendapat, ukuran qiroth dimisalkan gunung Uhud (Fathul Bari, 3/149).

Hukum Anjing Pemburu dan Anjing Pelacak

Para ulama sepakat bahwa memelihara anjing pelacak dan anjing pemburu diperbolehkan. Anjing pemburu diperbolehkan karena ada hadist yang membolehkannya. Sedangkan untuk anjing pelacak dilihat dari kebermanfaatannya. Karena dengan adanya anjing pelacak bisa melacak keberadaan obat-obatan terlarang, bom, bisa juga untuk mengindentifikasi suatu barang bukti dan lain sebagainya. Intinya anjing ini dimanfaatkan untuk kepentingan umat.

Fakta Tentang Anjing Anjing Pelacak

Anjing Pelacak Menjadi Andalan Polisi Saat Mengindentifikasi Narkoba, Bahan Peledak dan Lainnya

Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh ‘Abdullah bin Sholeh Al Fauzan, “Anjing yang dipelihara dan dimanfaatkan untuk maslahat umat, semisal untuk melacak keberadaan bahan peledak, obat-obatan terlarang, dibolehkan karena adanya manfaat di sana untuk umat. Seperti halnya anjing yang menjaga hewan ternak dan tanaman, anjing ini bukan berada dekat dengan manusia. Anjing pelacak ini biasanya sangatlah galak dan bisa membahayakan manusia sehingga ditempatkan jauh dari manusia.” (Minhatul ‘Allam, 9: 219-220).

Alasan Haramnya Memelihara Anjing

Alasan pelarangan memelihara atau memanfaatkan anjing menurut Ulama Syafi’iyah dan Hambali adalah sebagai berikut:

1. Ada dalil yang melarangnya.

2. Adanya bahaya (dhoror) yang ditimbulkan ketika memelihara anjing (rabies dan lainnya).

3. Orang yang berada di rumah yang ada anjingnya merasa takut, terutama wanita dan anak-anak.

4. Malaikat enggan masuk ke rumah yang di dalamnya memelihara anjing. Padahal tanda baiknya rumah adalah masuknya malaikat, sedangkan jika malaikat enggan masuk, tanda rumah tersebut jelek.

5. Bejana atau wadah yang terkena air liur anjing menjadi najis.

6. Berkurangnya pahala pemilik anjing tiap hari satu qiroth.

Najis yang Terdapat di Anjing

Ada tiga pendapat mengenai najis pada anjing, yaitu:

Pertama, seluruh tubuh anjing adalah najis termasuk bulunya. Menurut pendapat Imam Syafi’i dan pendapat Imam Ahmad (salah satu dari dua riwayatnya).

Kedua, anjing itu tidak najis alias suci begitu pula air liurnya. Menurut pendapat dari Imam Malik.

Ketiga, najis anjing terdapat di air liurnya sedangkan bulunya itu suci. Pendapat dari Imam Abu Hanifah dan salah satu pendapat lainnya dari Imam Ahmad.

Cara Membersihkan Najis

Membersihkan Benda yang Terkena Air Liur Anjing

Cara membersihkan benda yang terkena air liur anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan pada cucian yang pertama dicampur dengan tanah. Ini sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طهـور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولا هن بالتراب

“Sucinya bejana salah seorang di antara kalian jika dijilati anjing adalah dengan tujuh kali mencuci dan dicampur dengan tanah untuk yang pertama kali mencuci.” (Shahih, riwayat Muslim (no. 279). Lihat juga Shahih Jami’ush Shaghir (no. 3933))

Untuk membersihkan benda yang terkena air liur anjing, maka bisa dilakukan dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan cucian pertama dicampur dengan tanah. (Fiqhus Sunnah, I/55)

Membersihkan Makanan yang Terkena Air Liur Anjing

Jika makanan yang dikenainya, maka buanglah bagian yang terkena air liur tersebut dan yang di sekitarnya, sedang sisanya dianggap suci. (Fiqhus Sunnah, I/55)

Mengapa Air Liur Anjing Najis? Dan Kenapa Harus dengan Tanah?

Menurut penelitian para ilmuwan, air liur anjing mengandung virus yang sangat kecil dan halus. Virus pada air liur anjing berbentuk pita cair. Sehingga ketika menempel pada suatu benda akan sulit dihilangkan. Menurut Dr. Al Isma’lawi Al-Muhajir, virus tocks characins pada anjing dapat ditularkan kepada manusia, dan virus ini mengakibatkan kaburnya penglihatan dan kebutaan.

Menurut ilmu kedokteran modern, tanah diketahui mengandung dua unsur yang dapat membasmi kuman-kuman, yaitu: tetracycline dan tetarolite. Dua unsur ini mensterilisasi beberapa kuman.

Dijelaskan pada sebuah eksperimen dan beberapa hipotesis, bahwa tanah merupakan unsur yang paling efektif dalam membunuh kuman. Contohnya saja di kuburannya orang yang meninggal akibat sakit. Di sana para peneliti tidak menemukan kuman penyakit apapun.

Jadi saat membersihkan benda yang terkena air liur anjing dengan tanah, maka tanah berfungsi untuk menyerap virus dan menetralisasinya.

Baca juga Fakta Tentang Anjing (part I)