Dalam Pertemuan Singkat Ada Nasihat yang Tetap Melekat [part-1]

Seperti biasa, di pagi yang teramat dingin ini aku terbangun sendiri. Sepi, tapi aku selalu menikmati. Untuk sekedar meresapi arti diri, aku tak pernah menyesali merasa sendiri. Menghabiskan waktu bertanya pada diri atau pada-Nya yang tak pernah mati. Menangisi dan mensyukuri apa yang ada pada diri atau pada apa yang telah terjadi. Ini waktu yang kumiliki.

Ada banyak hal yang belum tuntas aku lakukan, ada banyak waktu yang terbuang, semua itu menjadi beban pikiran yang selalu saja menghantui hari-hariku. Ada banyak penyesalan-penyesalan yang silih berganti datang, ada banyak kesempatan terbuang, apa yang harus aku lakukan?

Berdoa adalah salah satu hal yang bisa mengurangi rasa cemasku. Jika aku tidak salah dalam mengamati banyak kelemahanku, maka doa yang akan berulangkali aku ucapkan adalah memohon agar dimampukan untuk dapat menjernihkan hati dan pikiranku serta mampu menjaga ucapanku tetap positif.

Rencananya, saat ini aku harus memeriksa ulang isi perencanaan penelitianku tapi aku punya utang cerita pada seorang sahabat, terpikirkan untuk aku tuliskan saja. Rasanya menulis cerita lebih enjoy dibanding melakukan segala hal yang berbau skripsi. #malu.

Kebijakan yang … #nocomment

Berawal dari pertemuanku dengan seorang Letnan Kolonel dalam perjalanan menuju Jatinangor kemarin sore. Pertemuan singkat yang membawa banyak cerita.

Bus Primajasa tujuan Lebak Bulus yang sesak penumpang tidak menyisakan tempat duduk untukku¸ aku sudah biasa. Beruntung aku bisa duduk samping pak supir, tempat paling strategis dan paling aku sukai sebenarnya, biar tanpa jok empuk sekalipun dan nyempil-nyempil di kaki orang. Banyak hal unik yang pernah aku temukan saat duduk pada posisi tersebut, sehingga aku sangat menyukainya.

Biasanya, aku suka sekali menghabiskan waktu di perjalanan dengan ‘berimajinasi’ (menghaluskan kata ‘melamun’) atau tidur. Awalnya aku sudah membangun sebuah cerita dalam dunia khayalku tapi tidak berlanjut, aku malah sedih dengan mengingat kejadian sebelum aku berangkat. Ada dua hal, salah satunya adalah ketika hujan turun deras begitu mendadak sehingga aku harus bekerja ekstra menyelesaikan pekerjaanku hingga membuat pinggangku sakit. Hal satunya lagi tak perlu aku tuliskan, karena itu membuatku menitikkan air mata. Dalam perjalanan, apa saja bisa membuat emosiku bergejolak, menangis tiba-tiba atau bahkan senyum-senyum ga jelas, ah semakin tampak gila saja diriku. Daripada sedih, akhirnya aku memilih ‘chat’ dengan kedua sahabatku di grup yang bernama ‘pidipidipoo’.. 😀

Perbincanganku dengan kedua sahabat di dunia maya terhenti ketika dua orang penumpang naik di daerah Cipeundeuy, dekat stasiun kereta. Seorang penumpang duduk di sampingku karena memang tidak ada kursi kosong yang tersisa. Aku refleks menganggukkan kepala sembari senyum sebagai sapaan dan tanda kesopanan, tapi sayang orang tersebut mengacuhkanku. Aku tak ambil peduli, paling penting aku harus membuat posisi dudukku nyaman karena kini berbagi tempat. Tak lama berselang, orang tersebut dimintai ongkos lalu bilang “separo ya”? sambil memperlihatkan KTA di dompetnya. Aku baru ‘ngeuh’ kalau beliau yang disampingku adalah orang militer dan jelas bukan orang sunda. Pantes kelihatan songong, pikirku.

Di dalam bus primajasa, anggota TNI yang berseragam atau ber-KTA hanya membayar ongkos setengah harga. Kebijakan yang entah datang darimana, aku sering mendengar baik di kereta ataupun angkutan umum lain yang memberlakukan ongkos setengah harga bagi TNI/POLRI. Keren, mereka memang bertugas untuk Negara, makanya harus ‘dibantu’. Hanya saja, aku kok ngerasa aneh dan melihat mereka ga cocok buat bayar cuma setengah saja. Ah, no comment, aku ga tahu banyak tentang kehidupan orang militer.

Semua Berkat Buku dan Pengalaman

Posisi dudukku semakin tidak nyaman, selain karena orang di sebelahku, dudukku juga agak terjepit. Beliau yang disampingku mulai melirikku dan akhirnya berbasa-basi “mau kemana, dek?”, pertanyaan biasa. “Dangdeur”, jawabku. “oh nanti kalau kamu turun saya pindah ke tempatmu ya, saya masih jauh, ke lebakbulus” katanya. Dalam hati, dia maksain nanya juga untuk kepentingannya. Haha. “iya pak”, menutup pembicaraan.

Tidak lama kemudian, beliau kembali bertanya, “Adek kerja?” pertanyaan klasik buatku karena sudah sering dianggap pegawai Kahatex (pabrik Tekstil di Rancaekek). Aku akan menjawab pertanyaan itu tergantung orang yang bertanya, bisa menjawab iya bekerja atau buat orang yang menurutku songong seperti beliau, aku harus punya nilai lebih, aku akan jawab masih kuliah agar tidak dipandang rendah. Beliau tersenyum mendengar jawabanku, “di padjadjaran dek? Ambil apa?” Aku jawab seperlunya tapi darisana obrolan mulai mengalir kesana kemari, suasana mulai cair dan penilaianku otomatis berubah terhadapnya. Hormat!!

Perjalanan selama dua jam pertama kalinya aku rasakan amat sangat singkat, ada banyak nasihat dan cerita perjalanan hidup yang aku dapatkan. Di ujung, beliau berkata “semua yang saya katakan adalah berkat buku dan pengalaman, sukses ya dek”.

Ada hal yang luput dari pandanganku pada pertama kali aku melihat beliau. Beliau ternyata sederhana, dari Jogja menuju Jakarta cuma pakai sandal jepit merk swallow, berpakaian biasa ditutupi jaket. Itulah sebabnya di awal aku tidak langsung mengenali beliau sebagai anggota militer padahal rambutnya 1cm. Aku sudah terlanjur berprasangka aneh-aneh.

Beliau kelahiran Jogjakarta, anak seorang sersan yang meninggal sewaktu beliau masih sekolah menengah. Kuliah di UGM mengambil jurusan sejarah, kemudian melanjutkan pendidikan masuk wamil dan mengambil spesifikasi bidang hukum. Aku tidak tahu penggunaan kata yang tepatnya seperti apa di militer tapi aku hanya mencoba menuangkan kembali sedikit yang aku tahu dari cerita hidupnya. Perjalanan pendidikan dan pengabdian yang dia tempuh di militer membawanya sampai saat ini berpangkat Letnan Kolonel (letkol). Di kelas perwira, pangkat tersebut cukup tinggi, setidaknya masih di atas mayor dan kapten. *Jadi teringat salah satu pembinaku dulu, pak kapten yang katanya mau mentraktirku seandainya naik pangkat jadi kolonel atau apa dan sekarang entah apa kabarnya.

*bersambung ke Pertemuan Singkat

Dalam Sebuah Perjalanan, 22 April 2014

-Sholihah-

Leave a Reply