Dalam Pertemuan Singkat Ada Nasihat yang Tetap Melekat [part-2]

Cerita ini merupakan lanjutan dari

Dalam Pertemuan Singkat Ada Nasihat yang Tetap Melekat

Hari ini, beliau yang tidak sempat bertukar nama denganku, akan mengikuti tes calon hakim militer di Mahkamah Agung. Aku simpulkan beliau bukan orang sembarang, dilihat dari tes yang beliau ikuti tidaklah mudah. Beliau ceritakan rangkaian ujian yang harus dilalui, mulai dari psikotest, visi misi dan lainnya sampai memperkenalkan aku sebuah lembaga yang mengujinya yaitu Quantum. Pada tes hari ini yaitu wawancara akan tersisa 20 orang dari 40 orang yang lulus dari tes sebelumnya. Dengan keterangan itu saja aku berhasil menemukan namanya dengan mudah hanya melihat daftar kelulusan calon hakim militer di website MA. Hanya ada dua yang berpangkat Letnan Kolonel (AD) dari 40 orang tersebut. Aku yakin nama beliau pak ……., S.H, pangkat letkol, jabatan waka kumdam XVII/cendrawasih. Yang membuat aku yakin adalah beliau pernah mengatakan sebelumnya bekerja di Papua dan menjabat sebagai orang nomor 2. Itu saja cukup untuk menyimpulkan siapa nama beliau.

Aku tidak bisa menyampaikan biografi beliau lebih baik dan lebih banyak, maklum hanya obrolan singkat. Tapi banyak hal yang beliau bagi padaku, terkait kehidupan, masukan-masukan untuk masa depanku dan sedikit berbagi semangat untuk hidup yang lebih baik. Serta sedikit cerita terkait jawaban dari pertanyaan-pertanyaan konyolku.

Awalnya, memang beliau lah yang memulai bertanya banyak tentang kehidupanku, mulai pekerjaan ayah, jumlah saudara, dan banyak hal tentang keseharianku. Aku menceritakan seperlunya, tapi tampaknya beliau tertarik dengan beberapa pernyataanku, sehingga obrolan terus mengalir. Menurutnya, ada kesamaan antara aku dan beliau, padahal menurutku tidak sama sekali. Aku hanya mendengarkan, dan memang lebih suka mendengarkan tanpa banyak bicara.

Ketika aku sadar beliau ramah dan senang berbagi pengalaman, akhirnya aku mencoba mempertanyakan kenapa beliau memilih menjadi hakim militer, apa yang membedakan penegakan hukum di militer dan sipil serta bagaimana tantangannya. Aku tidak terlalu pandai bertanya, tapi setidaknya pertanyaan tersebut adalah hal pertama yang terpikirkan olehku. Ada banyak hal yang beliau sampaikan sebagai jawaban, tapi ingatanku benar-benar terbatas. Pada intinya aku menyimpulkan bahwa beliau ingin ikut andil memperbaiki bangsa dengan kemampuan yang dimilikinya. Di Indonesia, penegakan hukum menjadi sangat krusial, baik di militer maupun sipil. Tidak ada yang membedakan dalam prosesnya, selama di dalamnya ada ‘manusia’, maka penyimpangan-penyimpangan tidak dapat dihindari.

Menjadi hakim tentu tidak akan mudah, urusan dunia akhirat bagi beliau. Untuk Negara, agama dan keluarga beliau berani mempertaruhkannya, meskipun artinya akan menambah koleksi ‘musuh’. Beliau berharap di sisa waktunya yang tinggal 8 tahun lagi menuju pensiun ada hal lebih besar yang bisa beliau lakukan, salah satunya sebagai hakim militer yang posisinya penting dalam penegakan hukum yang adil. Setelah masa itu beliau hanya ingin jadi pendidik. Beliau berpengalaman mengajar di militer dan lama bertugas di bagian pusdik, sehingga setelah pensiun pun mengharap bisa mengajar saja atau paling tidak menjadi guru ngaji, sebagai ustadz di kampung halamannya.

Pertanyaan lain yang tidak penting tapi membuatku penasaran adalah mengenai dominasi orang jawa dalam militer, hampir di manapun anggota TNI kebanyakan bersuku jawa. Beliau menjawabnya dengan bercerita mulai dari kerajaan mataram hingga majapahit, dimana kerajaan-kerajaan tersebut adalah kerajaan besar di Jawa yang tentu membutuhkan banyak prajurit. Prajurit diangkat dari masyarakat sekitar, hampir seluruh warga adalah prajurit kerajaan, terutama daerah Purworejo saat ini. Mental dan jiwa seorang prajurit turun temurun begitu saja, hingga kebanyakan masyarakat jawa memilih masuk militer sampai sekarang. Bagelen adalah salah satu daerah di Jawa yang dikenal sebagai kawasan pemasok anggota militer. Beliau juga bercerita tentang para jenderal, mulai dari Ahmad Yani hingga Sarwo Edi Wibowo, kesemuanya berasal dari Jawa. Salah satu daerah yang banyak terdapat Jenderal adalah Pare-Kediri, tempat yang kusinggahi setahun lalu.

Obrolan tentang perjuangan dan prinsip-rinsip hidup tidak kalah menarik bagiku. Ada bangga saat beliau bercerita tentang kesederhanaan hidup seorang rektor UGM yang berasal dari Tasik. Beliau juga memberiku banyak wejangan, menyarankan beberapa masukan setelah nanti beres kuliah. Beliau meyakinkan aku bahwa kelak aku bisa sukses dengan caraku sendiri. Beliau menguatkanku untuk tegak menghadapi apapun karena ada banyak hal baik dalam hidup ini yang harus diperjuangkan. Satu pernyataan yang agak membuatku tersipu adalah “saya bersyukur masih ada mahasiswa seperti adek, kelak pasti menemukan kesuksesan”. Sebagai mahasiswa aku sering merasa tidak ada apa-apanya, entah apa yang sudah aku ceritakan sehingga beliau mengatakan hal tersebut.

Sukses adalah relatif bagiku, setiap orang mungkin punya pemahaman sendiri mengenai arti kesuksesan. Suatu waktu aku pernah mengatakan pada seorang senior yang bekerja pada perusahaan pertambangan, “akang hebat, bisa sukses gitu”. Seniorku lalu bilang “menurut saya, teteh juga sudah sukses”. Aku bengong. Semoga ketika sukses itu datang aku bisa memahaminya, sukses yang tidak dibatasi sekedar ukuran materi..

Hal yang paling aku sayangkan ketika ngobrol dengan pak Letkol adalah saat mengetahui bahwa beliau lama kerja di Papua tapi waktuku habis. Apa yang tidak menarik dari cerita papua dan anggota militer buatku..

Pak Letkol dan semua yang pernah kutemui di perjalanan, yang sudah berbagi ceritanya padaku, ingin kembali kusampaikan terimakasih, pasti akan kudoakan yang terbaik bagi mereka..

Salam, Pak Letkol!!

 

Dalam Sebuah Perjalanan, 22 April 2014

-Sholihah-

Leave a Comment