Cerita Pendek: Tragedi 99

“Auuuu… auuuuu….”
Suara makhluk aneh mengganggu tidurku yang tak nyenyak. Lolongan panjang terdengar sangat dekat di telinga.
“Apa hanya aku yang mendengar?” Batinku. Tak ada satupun penghuni rumah ini yang sadar selain aku.
Takut-takut aku membuka gorden jendela kamar, mencoba mengintip ke arah pepohonan di halaman. Merinding, hanya itu yang kurasakan.
Tepat disana, di bawah pohon belimbing, bayangan hitam hewan tak kukenal sedang melolong, menatap ke arah langit. Ya, seolah memberi pertanda. Semakin kudengar seksama, semakin aku yakin akan satu hal. Mungkinkah itu anjing babaung?
Aku tak bisa membuat mataku kembali terpejam. Perasaan takut akan terjadi sesuatu yang buruk mulai menghantui. Usiaku boleh masih kecil, tapi instingku cukup tajam. Ini tak biasa, terlalu hening untukku. Sekarang adalah malam terakhir di bulan Ramadhan 1420 H, seharusnya masih terdengar keramaian tadarus lewat pengeras suara dari masjid di sepanjang malam ini, seperti biasa.
Tok tok tok.. tok tok toook..
Gedoran pintu di tengah malam mengagetkanku yang tetap terjaga walau lolongan telah tiada.
“Mah.. maah.. maaah, buka pintunya!!” Suara a Rudi tersengal-sengal meminta dibukakan pintu.
Tak lama, bibiku bangun dan langsung menuju pintu. Terdengar suara bibiku yang tercekat, tampaknya kaget akan sesuatu. Aku penasaran apa yang terjadi, tapi tidak berani keluar kamar. Samar-samar aku mencoba menguping pembicaraan mereka.
“Astagfirullah, kamu kenapa Rudii?” Hal pertama yang ditanyakan bibiku.
“Kunci pintu, maah! Matiin lampu!” Ucap a Rudi terdengar panik, gemetar dan takut.
“Ada apa ini teh, Ruud? Innalillah, Ya Raab..” Bibiku terbawa panik.
“Masjid ada yang nyerang mah, anak-anak lagi tadarus diserang tiba-tiba. Ada banyak orang yang bawa golok, pedang, celurit. Pokoknya benda-benda tajam.” Jawabnya cepat.
Aku mulai gemetar.
“Kenapa bisa? Apa masalahnya?”
“Ga tahu, katanya mau nyari ustadz. Sasarannya ustadz tapi yang lain juga ikut diserang. Semua yang lagi ngaji lari menyelamatkan diri. Banyak yang luka-luka.” Sedikit penjelasannya dengan nafas tak karuan.
“Ya Allah..”
“Dengar-dengar sih ustadz dikeroyok di depan masjid, digebukin banyak orang. Ga ada yang berani nolongin, maah. Yang mendekat aja lukanya parah. Tengah malam gini juga kan ga terlalu banyak yang masih di masjid.”
Aku membeku.
“Shuuut, pelankan suaramu! De Maca nginep disini.” Bisik bibiku. “Syukurlah sekarang kamu bisa sampai ke rumah, ga ada yang ngikutin kan?” lanjutnya.
Ah, aku terlanjur mendengar semuanya. Ustadz? Itu ayahku. Tak tahan, aku pun menghampiri mereka yang berjalan perlahan ke kamar sebelah.
“Ada apa bi?” Tanyaku gemetar.
“Eh, dee..” Bibiku terlihat bingung.
Sekilas aku menatap bayangan a Rudi, tampilannya tampak berantakan. Mungkin ia sempat membela diri saat ada penyerangan.
“A Rudi, ayah digebukin?” Lemas aku bertanya. Pasrah.
“Akang gimana?” Tanpa menunggu jawabannya, aku menanyakan kabar kakakku.
“Kakakmu lari ke arah barat, ke kampung sebelah sepertinya.” Hanya sebatas itu yang ia tahu.
Aku tak banyak bertanya lagi. Kembali ke kamar, aku pun menangis. Harap-harap cemas menunggu pagi, menanti kabar ayah dan akang. Apa yang terjadi sebenarnya? Ya Allaaah. Hatiku tak karuan.
Malam ini, kebetulan sekali aku tidur di rumah bibi. Tak biasanya.
Sayup-sayup aku mendengar suara di luar. Uh, bergidik, hanya dengan membayangkan mereka membawa golok. Aku takut orang-orang tak dikenal ini masuk ke rumah.
Seberapa banyak kah mereka? Kenapa tak ada tanda-tanda penduduk sini yang tahu ada penyerangan? Ataukah takut keluar? Ah, mungkin saja kebanyakan warga masih terhanyut dalam dunia mimpi.
Aku tak bisa memejamkan mata sedikitpun. Denting jam perlahan berdetak, lambat sekali kurasa. Sungguh, aku ketakutan. Bagaimana keadaan di rumahku? Apa kabar keluargaku semuanya? Aku hampir frustasi, bagaimana seandainya hanya aku yang selamat?
Selepas sahur di rumah bibi, aku buru-buru pamit pulang. Aku rasa keadaan sudah cukup kondusif. Kudengar suara kentongan bersahutan, pertanda banyak penduduk yang sudah terjaga. Rupanya, bisik-bisik tentang insiden tengah malam sudah menyebar. Mereka yang menyerang telah pergi dari kampung ini dengan menyisakan kepanikan.
Aku berjalan menuju rumah, ramai sekali. Pandangan orang-orang terpusat padaku, menatap prihatin. Bagaimana kondisi ayahku sebenarnya? Dag dig dug, aku menguatkan hati. Takut-takut aku melangkah, menatap pintu rumahku yang sesak.
“Ayah gimana? Udah di rumah?” Tanyaku pada orang yang berdiri di pintu masuk.
“Belum de, masih di rumah sakit katanya. Kita semua lagi nungguin ustadz. Sing tabah ya, de. Mudah-mudahan ustadz ga kenapa-kenapa.”
Ya ampun, ayahku masuk rumah sakit? Lututku lemas seketika. Mataku berkaca-kaca membayangkan kemungkinan terburuk yang harus kualami. Tapi aku menguatkan hati untuk menerima apapun yang terjadi.
Masuk ke rumah, tamu sudah memadati ruangan. Semua orang melihatku dengan tatapan sedih. Beberapa mengusap kepalaku, mencoba menguatkan. Aku bergegas masuk ke kamar, menemui ibu dan saudara-saudariku yang Alhamdulillah baik-baik saja.
Menjelang subuh, ayah tiba di rumah. Kerumunan orang-orang menghalangiku untuk segera tahu kondisi ayah. Tapi, ah itu dia. Lega melihatnya. Dengan senyuman khas ayah duduk di tengah ruangan, menenangkan para tamu yang sudah penasaran berat dengan insiden tengah malam tadi. Dari pintu kamar, sekilas aku melihat ayah dengan perban di dahinya dan beberapa luka di lengan kanan. Syukurlah, ayah tampak baik. Setidaknya, ayah masih menebar senyum dan bercanda seolah semua yang telah terjadi bukanlah hal yang serius.
Tamu datang silih berganti, termasuk dari pihak berwajib yang meminta keterangan. Seharian penuh tetap ramai orang-orang berkunjung, menjenguk ayah atau sekedar ingin tahu detail kejadian.

**

rusabawean.com
rusabawean.com

Malam takbiran tiba, murid-murid ayah berkumpul berbagi cerita. Aku hanya bisa mendengarkan dari sudut kamar, satu cerita disambung dengan cerita lain sehingga menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Akhirnya, aku bisa membuat sebuah kesimpulan atas insiden yang terjadi.
“Untung bapak kebal, kalo enggak mah udah aja ancur dibacok.” Ucap salah satu murid ayah di tengah-tengah obrolan.
“Dikeroyok puluhan orang yang bawa golok dan kapak, kalau bukan bapak mah emang udah ga mungkin selamat sih.” Timpal murid ayah yang lain, merasa luar biasa.
Aku tahu, hanya atas kuasa Allah lah ayahku selamat.
Kenapa ayahku? Tujuannya? Pembunuhan kah? Atau pembantaian? Entahlah. Kejadiannya cukup singkat, penyerangan terencana yang dilakukan tengah malam. Mereka sudah tahu kalau ayah selalu standby di masjid untuk tadarus selama bulan Ramadhan.
Sayang sekali bagi mereka, ayahku masih hidup.
Malam ini, Takbir menggema ke seantero alam. Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Walau malam mencekam, semua terhanyut dalam puja dan puji pada sang Khalik. Hari berganti, fajar menyingsing, menyambut hari kemenangan. Lebaran pun tiba.
Aku bersiap menuju masjid untuk melaksanakan shalat ‘Ied. Sayang, pembicaraan tentang insiden penyerangan masih deras mengalir di hari yang fitri ini. Pagi yang harusnya berlimpah bahagia seolah ternoda dengan rasa was-was.
“Ini kenapa masih ada golok?” Ujar seorang ibu yang kaget ketika memasuki halaman masjid.
Rupanya kebanyakan korban adalah pengurus masjid, kelihatan dari persiapan pelaksanaan shalat Idul Fitri yang tidak baik. Beberapa benda tajam masih dibiarkan di sudut halaman. Darah yang tak segera dibersihkan juga tampak mengering. Ah, lebaranku kini. Terasa mencekam.
Apa salah dan dosa ayahku? Apa salah warga kampungku yang jadi korban penyerangan? Tak ada hal lain yang terpikirkan olehku selain dendam.
Kampungku letaknya sangat strategis, dilalui jalan raya nasional. Bukan hanya itu, adanya pertigaan yang menjadi akses ke kabupaten sebelah menjadikan kampung ini ramai. Suasana ramai rupanya menarik banyak pendatang, untuk sekedar berjudi atau bermabuk-mabukan. Miris.
Sekali dua kali, ayah menghajar pemabuk yang berkeliaran. Ayah tidak suka kampung ini didatangi penduduk luar hanya untuk berbuat maksiat. Suatu hari, ayah membawa polisi untuk menggerebek orang-orang yang sedang berjudi. Alhasil banyak orang yang digiring ke kantor polisi, sebagian besar adalah penduduk desa sebelah. Bukan hanya penjudi, rupanya mereka adalah pencuri yang sedang diincar kian hari.
Sejak hari itukah keluarga mereka menaruh dendam?
Ya Allah, aku memohon pengampunan dan perlindungan. Inilah sujudku di Lebaran 1999, tepat sebelum milenium ke 3 datang.
Harapanku, kejahiliyahan lekas hilang.

**

Beberapa minggu berlalu.
“Ustadz, maafkan anak saya. Maafkan! Hanya inilah yang bisa saya lakukan akhirnya.” Suara seorang ibu renta memohon-mohon pada ayah sembari menahan isak tangis.
“Insya Allah, sudah saya maafkan bu. Mohonlah pengampunan pada Allah!” Lembut ayahku menjawabnya.
“Anak saya sakit, tak lama setelah menyerang ustadz. Saya sudah membawanya berobat kesana kemari tapi tak kunjung sembuh.” Ibu tersebut mencoba menjelaskan sesuatu dengan perasaan bersalah. Ayah langsung mengerti apa yang terjadi walau si ibu menjelaskannya terbata-bata diiringi tangisan.
“Saya paham, insya Allah saya usahakan bantu ibu.” Ayah bergegas meninggalkan ruang tamu. Tak lama, ayah membawa sebotol air dan diserahkannya pada ibu tersebut.
“Minumlah air ini oleh anak ibu, sebagiannya dimandikan. Insya Allah segera membaik.”
“Terimakasih ustadz, sekali lagi saya memohon maaf atas kesalahan keluarga saya”

**

Beberapa hari berlalu.
Tok tok tok..
“Assalamu’alaikum” Suara ibu-ibu ramai di depan rumahku.
Aku membuka pintu.
“Neng, ustadz ada?”
Bukannya menjawab, aku malah melongo. Ini ibu-ibu mau pengajian di rumahku gitu?
Aku tak habis pikir, ibu-ibu ini rupanya datang dari desa sebelah. Mereka tak peduli dengan cibiran dan tatapan sinis dari warga kampungku. Demi suami-suami mereka, atau anak-anaknya, ibu-ibu tersebut datang menemui ayahku dengan membawa sebotol air.
Ah, apa mereka semua yang menyerang ayahku langsung jatuh sakit? Atau hanya beberapa yang terkena pukulan ayah? Entahlah, rasanya tak masuk akal.
Kampungku gempar sekali lagi karena banyak warga desa sebelah masuk ke kampung ini kembali. Beruntunglah mereka hanya perempuan sehingga tak ada yang mendapat tindak kekerasan.
Apakah warga disini tidak marah? Tentu sebagai manusia biasa, warga disini naik darah dan ingin membalas dengan penyerangan yang sama. Tapi, ayah tak pernah mengijinkan siapapun untuk melakukan pembalasan.
“Ayah, kenapa ga boleh membalas orang-orang yang udah jahatin ayah?” Tanyaku suatu pagi setelah mendengar obrolan ayah dengan tamu yang menawarkan diri untuk mengumpulkan masa dan melakukan penyerangan balik ke desa sebelah.
“Dzalim tidak bisa dibalas dengan dzalim, Ca. Kalau kita membalas dengan cara yang sama, maka kita tak lebih baik dari mereka.” Ucap ayahku, siap memberi pemahaman yang kelak harus kugigit kuat.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana kalau mereka berani menyerang ayah lagi?”
“Kenyataan bahwa ayah masih hidup, sudah menjadi terror buat mereka. Percayalah, tak akan ada yang berani menyerang ayah lagi. Insya Allah.” jawabnya santai.
“Biarkanlah Allah yang membalasnya. Doakan saja agar mereka segera bertaubat.” Sambung ayah diakhiri dengan senyum khasnya.

**

Leave a Comment