Apakah Ini Dosa Besar?

Dosa besar???

Entah bagaimana awalnya, tapi semua terjadi begitu saja. Aku akui, dengan segala kekurangan dan kelebihanku, aku telah melakukan hal yang salah. Atas kekuranganku yang sering lalai, aku menunda banyak pekerjaan, aku menghindari kewajiban yang harusnya cepat diselesaikan. Atas kelebihanku yang penuh perhitungan, banyak berpikir, aku enggan bertindak karena tahu jika melakukan hal ini konsekuensinya begini dan jika melakukan hal itu konsekuensinya begitu sehingga pada akhirnya aku cenderung memilih diam. Daya pikirku yang kejauhan bukan lagi nilai plus tetapi menjadi kekuranganku, karena yang tersisa dari semuanya hanya prasangka dan rasa takut.

Sebenarnya tidak masalah bagiku ketika aku melakukan kesalahan, toh semua orang pun pasti pernah melakukannya. Manusia memang tempatnya salah dan khilaf. Tapi sangat menjadi masalah besar bagiku ketika aku tidak dapat belajar dari kesalahan yang lalu, ketika aku tetap melakukan kesalahan yang sama. Bebal namanya, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan diriku. Dan yah, aku belum bisa move on.

Suatu waktu aku bercerita pada sahabat-sahabatku, aku kesulitan. Suatu hari, setelah sekian lama hari demi hari hanya berlalu begitu saja aku memutuskan menghadap dosenku, aku bercerita bahwa aku kesulitan. Hingga pada akhirnya, di suatu pagi aku pun berterus terang pada ayahku, aku kesulitan. Apa aku mendapat solusi? Entahlah, karena ketika setiap dari mereka bertanya apa masalahnya, aku hampir tak dapat memberikan penjelasan. Mungkin sebenarnya memang tak ada masalah, tapi aku mencari-cari alasan, sehingga solusi apapun yang ditawarkan tampaknya mental.

Di suatu pagi, ketika aku memutuskan untuk menceritakan kondisiku pada ayah, tak sengaja aku melihat peluh bercucuran membasahi pelipisnya. Dari balik kaca, aku lekat memperhatikan sosoknya, kulitnya yang semakin gelap dimakan terik karena kesehariannya mencari rumput di alam terbuka. Kuamati garis wajahnya yang kini penuh keriput dan rambutnya yang tampak memutih tanda usianya semakin sepuh. Walaupun begitu, ayah yang hanya memakai singlet masih terlihat begitu gagah bagiku, otot-otot kekarnya tampak jelas saat ia memegang perkakas, penuh semangat membereskan dan membelah kayu bakar di depan teras.

Setelah lama dan cukup puas mengamati ayah, aku menghampirinya. Ketika ia melihatku senyumnya merekah, ah ia tampak sepuluh tahun lebih muda dari usia sesungguhnya. Tanpa menghentikan aktivitasnya, ia bertanya kapan keberangkatanku. Aku tak menjawabnya, hanya mendekat lalu duduk di sampingnya. Aku tak bermaksud mengabaikannya, hanya saja aku sungguh tak mampu bersuara. Pandanganku bahkan semakin kabur, aku merasa mataku tak mampu lagi menampung genangan air mata. “Ayah, hapunten”, ucapku begitu saja, serak dan bergetar. Lalu, hanya jeda keheningan yang kurasakan karena ayah menghentikan aktivitasnya.

Aku tak berani menatap mata ayah, aku hanya menunduk dan bercerita kalau aku sedang kesulitan. Aku tak dapat menjabarkannya, aku hanya kesulitan, itu saja. Tak ada cerita panjang lebar keluar dari mulutku seperti biasanya, hanya pertanyaan retoris yang tak sengaja kuucapkan, seperti: Apa aku banyak dosa? Apa aku menyakiti orang? Aku tahu, mungkin pertanyaanku sama sekali tak ada korelasinya dengan kesulitan yang kurasakan. Tapi begitulah, itu hanya kebiasaanku komat kamit sendiri.

Ayah tak perlu mendengar banyak dariku, ia tampaknya paham apa yang kurasakan. Ayah hanya bilang bahwa akan selalu ada masanya dimana kita mengalami kesulitan, begitu juga ada masa ketika segala serba dimudahkan. Kesulitan dan kemudahan datang dari Allah. Saat dimudahkan harus bersyukur dan ketika mengalami kesulitan harus yakin bahwa ada hikmah dibaliknya. Ayah bilang, dulu aku dimudahkan dalam kegiatan akademik tanpa perlu usaha keras seperti yang selalu kuceritakan. Sekarang aku merasa kesulitan di akhir (skripsi), maka yang harus aku percayai adalah ada hikmah di baliknya. Mungkin Allah memintaku untuk belajar lagi, lagi dan lagi.

Aku sangat memahami pesan ayah, hanya saja aku masih belum bisa menghindari kecenderunganku untuk menyakiti diri sendiri. Ayah tidak tahu apapun, aku begitu terpuruk karena hal biasa yang semua orang normal pun bisa menjalaninya dengan baik.

Apakah aku telah melakukan dosa besar sehingga aku menghukum diriku sendiri? Apakah ini dosa besar sehingga kini aku tak berani bertatap mata dengan ayahku?

 

Tagog, 12-12-2014

-Sholihah-

Baca juga Maafkan Aku yang Selalu Membuatmu Khawatir

Leave a Comment